This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Sapi. Show all posts
Showing posts with label Sapi. Show all posts

Wednesday, June 6, 2018

Kenal Lebih Dekat Dengan Jenis-Jenis Sapi Potong Unggul Yang Dibudidayakan Di AS

Macam-macam Jenis Sapi Potong Unggulan Yang Dipelihara dan Dikembangbiakkan di Amerika Serikat, Beberapa Merupakan Sapi Super Hasil Persilangan 
Sapi potong adalah jenis sapi yang diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya. Biasanya terdapat tiga tahapan utama dalam produksi daging sapi, yaitu tahap pengasuhan, penggembalaan dan pemberian pakan.
Didunia ini banyak sekali jenis sapi potong yang tersebar baik di negara tropis maupun sub tropis. Beberapa jenis sapi potong juga berkembang dengan baik di negara kita seperti sapi Bali, PO dan sapi Madura.
Berikut ini beberapa jenis sapi potong yang sudah banyak dikenal dan dipelihara peternak:
  • Sapi Limousin
  • Sapi Simmenta
  • Sapi Brahman
  • Sapi Angus
  • Sapi Hereford
  • Sapi Shorthorn
  • Sapi Brangus
  • Sapi Brahman Cross
  • Sapi Charolais
  • Sapi Belgisn Blue
  • Sapi Bali
  • Sapi Madura
  • Sapi SO
  • Sapi PO
  • Sapi Braford
  • Sapi Beefmaster
  • Sapi Simbrah
  • Sapi Crarbray
  • Sapi Santa Gertudis
  • Dll
Diantara banyak jenis sapi potong tersebut ada beberapa jenis yang sangat baik dikembangkan di negara AS dan menjadi sapi potong penghasil daging unggulan disana. Berikut macam-macamnya:

Sapi Beefmaster, Kualitas Unggul Persilangan Brahman, Hereford dan Sapi Shorthorn



Bangsa sapi Beefmaster dikembangkan di Lasater Ranch, Falfurrieas Texas pada tahun 1931. Status bangsa didapat pada tahun 1954 dan merupakan persilangan yang mengandung ¼ darah Hereford, ¼ darah Shorthorn dan ½ darah Brahman. Hal-hal yang menarik dari bangsa ini adalh bahwa untuk registrasi tidak diperlukan suatu pola warna tertentu.
Ciri-ciri Khas Sapi Beefmaster

  • Sapi ini bertubuh besar khas sapi Eropa dipadu dengan ketahanan tubuh yang baik terhadap lingkungan dan cuaca. 
  • Bulunya berwarna coklat kemerahan bercampur dengan putih kecil 
  • Terdapat punuk pula seperti sapi brahman.
  • Kualitas dan Persentase Karkas Bagus
  • Kualitas daging bagus
Seperti tercermin pada namanya, maka yang lebih ditekankan adalah dagingnya. Warnanya bias coklat, merah kecoklatan, merah, merah dengan totol putih, serta kombinasi warna yang lain. Beefmaster juga tidak dibedakan antara yang bertanduk atau tidak bertanduk. Ukuran badannya tergolong medium, dengan berat lahir pedet medium, serta berat sapihnya tergolong berat.

Bangsa sapi Beefmaster diseleksi untuk 6 sifat yaitu: disposisi, fertilitas, berat, konformasi, ketahanan serta produksi susu. Sapi ini termasuk masak dini sehingga betinanya dapat mulai dikawinkan pada umur 12 sampai 14 bulan. Sifat penting lainnya adalah bahwa pedet sapinya tergolong berat pada kondisi penggembalaan, produksi karkas termasuk peringkat mutu (grade) choice, kondisi tatalaksana minimum, daya tahan penyakit, daya tahan panas, jarang terjadi kesulitan saat kelahiran serta produksi susu yang cukup banyak.

Jenis Sapi Silangan Brahman dan Angus, Sapi Brangus



Negara bagian Oklahoma dan Texas di Amerika Serikat berjasa besar dalam mengembangkan bangsa sapi Brangus. Bangsa sapi ini memiliki 3/8 darah Brahman dan 5/8 darah Angus. Warna bulunya hitam dengan mewarisi punuk dari bangsa Brahman serta tidak bertanduk seperti halnya sapi Angus.
Ciri-ciri fisik dan Sifat Sapi Brangus:

  • Warna hitam dengan tanduk kecil.
  • Leher dan telinga pendek
  • Bentuk punggung lurus
  • Komposisi badan kompak dan padat
  • Kondisi kaki kuat dan kokoh. 
  • Adanya punuk sebagai warisan sifat sapi Brahman
  • Tahan terhadap udara panas meski berwarna hitam
  • Tahan terhadap gigitan serangga
  • Mudah menyesuaikan diri dengan pakan yang mutunya kurang baik
  • Produktifitas dagingnya tinggi dan persentase karkasnya tinggi sebagai warisan dari Aberdeen Angus
Ukuran badannya tergolong berat dengan pedet yang termasuk golongan medium dan bobot sapihnya tergolong berat. Sifat-sifat yang disukai meliputi konformasinya yang baik, pertumbuhan yang cepat, daya tahannya terhadap temperatur panas, daya tahan terhadap caplak, kemampuannya mengasuh pedet, serta keadaan daerah paha belakang yang kurang tebal.

Sapi Braford, Sapi Potong Unggul Hasil Silangan Antara Brahman dan Hereford



Bangsa sapi ini dikembangkan di Amerika Serikat melalui persilangan antara sapi Hereford dan sapi Brahman. Perbandingan darah bangsa sapi ini adalah 5/8 darah sapi Hereford dan 3/8 darah sapi Brahman. Hasil persilangannya memberikan karakteristik ukuran badan medium dengan pola warna yang tidak umum. Bangsa sapi Braford menghasilkan pedet yang berukuran medium dengan berat sapihan yang tergolong berat.

Sifat-sifat yang banyak disukai peternak adalah kesanggupannya untuk bertahan dalam kondisi tatalaksana yang minim, daya tahan terhadap temperatur yang panas, daya tahan terhadap caplak dan penyakit, kemapuan mengasuh pedet, konversi pakan yang cukup baik (terutama dari bahan hijauan untuk menghasilkan daging). Kekurangan sapi bangsa Braford adalah kemampuannya bertahan terhadap temperatur yang rendah sehingga tidak cocok untuk daerah-daerah di bagian utara Amerika Serikat.

Sapi Jenis Unggul Persilangan Sapi Simmental dan Brahman, Sapi Simbrah


Asosiasi Simmental Amerika membentuk suatu asosiasi baru yaitu Asosiasi Simbrah pada tahun 1977. Persilangan antara bangsa sapi Simmental dengan bangsa sapi Brahman, dengan perbandingan 5/8 darah bangsa sapi Simmental dan 3/8 darah bangsa sapi Brahman.

Kelebihan yang diperlihatkan oleh bangsa sapi Simbrah adalah daya tahannya terhadap temperatur yang panas, daya tahan terhadap penyakit dan caplak, kemampuan merumput serta kelahirannya mudah, masak dini dan produksi susu yang cukup, hasil karkas yang baik, imbangan yang serasi antara daging dan lemak, serta temperamen yang baik. Karena bangsa sapi Simbrah memiliki warna yang masih sangat bervariasi maka masih sulit untuk membedakannya sebagai suatu bangsa tersendiri yang terpisah.

Sapi Charbray, Sapi Potong Unggul Persilangan Antara Sapi Charolais Dengan Brahman



Bangsa sapi Charbray berasal dari persilangan antara bangsa sapi Charolais dengan Bangsa sapi Brahman yang dilakukan di lembaga Rio Grande. Persilangan ini tidak menetapkan persyaratan perbandingan darah dari masing-masing bangsa sapi, tetapi perbandingan darah yang disukai adalah 13/16 darah bangsa sapi Charolais dan 3/16 darah bangsa sapi Brahman.

Bangsa sapi Charbray berukuran besar yaitu mencapai berat badan 1000 kg untuk sapi betina dan pada sapi jantan dapat mencapai berat badan 1400 kg. Warnanya adalah putih (cream) dan memiliki tanduk. Sifatnya yang menonjol adalah kemampuannya mengasuh anak, pertumbuhan yang cepatm serta daya tahannya terhadap parasit dan caplak. Adapun kelemahan dari bangsa sapi ini adalah badannya yang memanjang namun dangkal dan kakinya terlampau panjang.

Red Brangus, Sapi Unggul Berasal Dari Black Angus


Bangsa sapi Red Brangus berasal dari bangsa Black Brangus, diciptakan pada tahun 1946 di Texas. Ukuran serta karakteristik sama dengan black Brangus.

Sapi Polled Hereford



Bangsa sapi Polled Hereford berkembang dari pemikiran para peternak Hereford di Midwest pada tahun 1890, yang beranggapan bahwa dapat dibentuk suatu bangsa Hereford modern yang tanpa tanduk. Warren Gammon dari desa Des Moines, Iowa Amerika Serikat menghubungi sekitar 2500 anggota asosiasi peternak Hereford pada tahun 1901, dalam usaha mengetahui adanya sapi-sapi Hereford murni yang secara alamiah tidak bertanduk.

Terbentuknya bangsa Polled Hereford berasal dari suatu survey untuk merealisasikan suatu keinginan mereka. Sapi Polled Hereford berukuran badan serta sifat-sifat lain yang menyerupai Hereford itu sendiri, bedanya hanyalah ada tidaknya tanduk saj. Kelemahan bangsa sapi jenis ini adalah perdagingan yang kurang sempurna pada daerah paha belakang.



Setelah mengawinkan Beef Frisian dengan Angus selama bertahun-tahun, sejumlah peternak dari berbagai negara bagian bertemu dan mendirikan organisasi Amerifax Cattle Association. Sapi hasil persilangan itu digunakan sebagai dasar pembentukan bangsa baru. Sifat yang disukai dari sapi Amerifax adalah tidak bertanduk dengan warna merah atau hitam. Bangsa sapi Amerifax merupakan bangsa sapi daging yang paling baru di Amerika Serikat. Bangsa sapi ini secara genetis memiliki 5/8 sifat Angus dan 3/8 sifat Beef Frisian (Amerifax Cattle Association).

Jenis Sapi Ankina



Organisasi Ankina Breeders-Inc didirikan pada tahun 1975. Organisasi ini telah menetapkan standar performa minimal untuk berat sapi vearling sehingga dapat disahkan untuk keperluan registrasi. Karakteristik fisik sapi Ankina berwarna hitam atau coklat gelap dan tidak bertanduk.

Sapi Santa Gertrudis



Bangsa sapi pertama yang dikembangkan oleh sebuah peternakan Amerika Serikat adalah Santa Gertrudis, suatu nama yang diberikan berdasarkan nama sebuah sungai kecil yang melintasi peternakan King Ranch di Texas. Di sanalah bangsa sapi ini diciptakan. Bangsa sapi Santa Gertrudis mengandung 5/8 darah Shorthorn dan 3/8 darah Brahman, serta diakui sebagai bangsa sapi pada tahun 1940.

Sapi Santa Gertrudis memiliki cirri fisik berwarna merah cherry yang gelap dan bulu yang mengkilap, dengan kulit lonngar seperti sapi Zebu. Sapi ini mempunyai ukuran berat badan yang besar. Berta badan sapi betina dewasa mencapai 725 kg, sedangkan berat badan sapi jantan dewasanya mencapai 900 kg. Pedet yang dilahirkan tergolong medium dengan bobot sapih antara medium dan berat. Sifat-sifatnya yang disukai antara lain adalah konformasi daging yang baik, perkembangan paha belakang sempurna, kemampuan merumput yang baik, daya tahan terhadap penyakit dan caplak, daya tahan terhadap panas, jika menggunakan sistem feedlot konversi pakannya cukup efisien. Beberapa kelemahannya adalah bersifay nervous dan masak kelamin yang lambat, mengakibatkan efisiensi reproduksi rendah.

Polled Shorthorn


Nama semula dari bangsa sapi ini adalah Polled Durham. Ini merupakan bangsa sapi yang merupakan inovasi orang-orang Amerika Serika. Lokasi pembentukannya adalah Ohio pada tahun 1870. Pejantan bangsa sapi Shorthorn dikawinkan dengan betina setempat. Kemudian dengan teknik-teknik inbreeding yang diterapkan berkembang menjadi suatu bangsa ternak yang mempunyai tanduk. Pada tahun 1889 terbentuklah Asosiasi Shorthorntak bertanduk dengan menggunakan persilangan tersebut yang kemudian menjadi landasan bagi perkembangannya.

Sapi Barzona, Hasil Persilangan Beberapa Jenis Sapi


Ranch Bard Kirkland di Arizona selama tahun 1940-1950 melahirkan bangsa sapi yang baru yang diberi nama Barzona. Dalam pembentukan bangsa sapi Barzona, bangsa-bangsa yang mengambil peran adalah Hereford, Santa Gertrudis, Angus dan suatu bangsa dari Afrika. Bangsa sapi Barzona berwarna merah berukuran berat medium, untuk sapi betina mencapai berat 450 kg sedangkan untuk pejantan mencapai berat badan 675 kg. Anak-anak sapi yang dilahirkan beratnya tergolong medium sampai berat.

Sifat-sifat Barzona yang disukai adalah ketahana hidup pada kondisi yang minimal, berat sapih yang relative besar, konversi pakan yang sangat baik, pertumbuhan yang cepat, aya tahan terhadap temperatur lingkungan yang tinggi, serta kemampuannya untuk mengasuh pedet. Daya adaptasinya baik terhadap kondisi lingkungan pegunungan, wilayah yang kering dan lokasi-lokasi lain dengan kondisi vegetasi yang jarang-jarang. Kekurangan Bangsa sapi Barzona adalah tidak tahannya terhadap temperatur udara yang sangat rendah, dan sebagai bangsa yang baru belum adanya keseragaman dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya.

Sapi Braler


Bangsa sapi ini dikembangkan oleh asosiasi peternak yang memanfaatkan proses “grading-up” seperti yang dilakukan dalam pembentukan bangsa-bangsa baru lainnya. Persilangan yang diadakan antara bangsa sapi Brahman dengan bangsa sapi Saler menghasilkan bangsa sapi Braler. Bangsa sapi Braler adalah bangsa sapi yang tinggi fertilitasnya dan tidak mengalami kesulitan dalam kelahiran.
Share:

Tuesday, June 5, 2018

Sejarah Asal Usul Sapi SO (Sumba Ongole) dan Keunggulannya


Sapi Lokal Yang Tahan Terhadap Cuaca Ekstrim Dan Pakan Yang Kurang Berkualitas, Sapi Sumba Ongole (SO)
Asal Usul Sapi SO. Sejarah sapi jenis ongole masuk ke Indonesia berawal dari India yang dimasukkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Sumba pada awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1906-1907. Pemerintah Hindia Belanda pada awalnya memasukkan empat jenis sapi ke Pulau Sumba, yaitu sapi Bali, sapi Madura, sapi Jawa dan sapi Ongole. Dari empat jenis sapi tersebut, ternyata hanya sapi jenis Ongole yang mampu beradaptasi dengan baik dan berkembang dengan cepat walaupun di Pulau Sumba musim kemarau-nya cukup lama. Kemudian sekitar tujuh tahun kemudian, pada tahun 1914, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan bahwa Pulau Sumba sebagai pusat pembibitan sapi Ongole murni. Dipasaran juga sering disebut sebagai Sapi Lokal atau Sapi Jawa atau Sapi Putih atau Rote Ongole atau Sumbawa Ongole. Sapi ini hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina Jawa yang berwarna putih. Sapi Ongole (Bos Indicus) sebenarnya berasal dari India, termasuk tipe sapi pekerja dan pedaging yang disebarkan di Indonesia sebagai sapi Sumba Ongole (SO).
Sapi ongole (Bos indicus) memerankan peran yang penting dalam sejarah sapi di Indonesia. Sapi jantan Ongole dibawa dari daerah Madras, India ke pulau Jawa, Madura dan Sumba. Di Sumba dikenal dengan sapi Sumba Ongole. Sapi Sumba Ongole (SO) dibawa ke Jawa dan dikawinkan dengan sapi asal jawa dan kemudian dikenal dengan peranakan ongole (PO) Sapi ongole dan PO baik untuk mengolah lahan karena badan besar, kuat, jinak dan bertemperamen tenang, tahan terhadap panas, dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang minim.
Secara fisik, sapi Sumba Ongole mudah sekali dikenali, karena mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
  • Warna kulit putih, disekitar kepala sedikit lebih gelap dan cenderung abu-abu
  • Postur tubuh agak panjang, leher sedikit pendek dan kaki terlihat panjang
  • Memiliki punuk besar dan bergelambir (lipatan-lipatan kulit yang terdapat dibawah leher dan perut)
  • Punuk tumbuh lurus dan berkembang baik pada ternak jantan.
  • Telinga panjang dan menggantung
  • Kepala relatif pendek dengan profil melengkung, mata besar dan tenang
  • Kulit disekitar kelopak mata berwarna hitam
  • Tanduk sapi betina lebih panjang dibandingkan sapi jantan.
  • Tinggi sapi jantan berkisar 150 cm dengan berat badan mencapai 600 kg. Sedangkan sapi betina memiliki tinggi 135 cm dengan berat badan 450 kg.
  • Pertambahan bobot rata-rata berkisar 0.85 – 0.95 kg/hari dengan kualitas karkas 45-58%.
Alam yang keras di Sumba sebagai habitat asli sapi SO menjadikan sapi ini menjadi sapi yang tahan banting, tahan dengan cuaca ekstrim dan juga pakan yang jelek (pakan dengan gizi dan kualitas buruk). Keunggulan ini menjadikan sapi SO mulai diperhitungkan oleh para pengusaha penggemukkan sapi untuk digemukkan dengan cara yang lebih intensif dalam sebuah feedlot penggemukan sapi. Salah satu keuntungan memelihara sapi SO yang kurus adalah kompensatory gain nya yang sangat tinggi.

Sapi-sapi ongole asal India dimasukkan kali pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Sumba, pada awal abad ke 20, sekitar tahun 1906-1907. Dari empat jenis sapi, yang dimasukkan ke Sumba saat itu, yaitu sapi Bali, sapi Madura, sapi Jawa, dan sapi Ongole, ternyata hanya sapi Ongole yang mampu beradaptasi dengan baik dan berkembang dengan cepat, di pulau yang panjang musim kemaraunya ini. Sekitar tujuh atau delapan tahun kemudian, pada tahun 1914, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Pulau Sumba sebagai pusat pembibitan sapi Ongole murni. Upaya ini disertai dengan memasukkan 42 ekor sapi ongole pejantan, berikut 496 ekor sapi ongole betina serta 70 ekor anakan ongole.


Ongole Jantan

Dalam laporan tahunan Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur (1989) tercatat, pada tahun 1915, Pulau Sumba sudah mengekspor enam ekor bibit sapi ongole pejantan. Empat tahun kemudian, pada 1919, ekspor sapi ongole dari Pulau Sumba tercatat sebanyak 254 ekor, dan pada tahun 1929, meningkat mencapai 828 ekor. Sapi-sapi asal Sumba ini pun memiliki merek dagang, sapi Sumba Ongole (SO). Perkembangan selanjutnya, Sumba kembali ditetapkan sebagai pusat pembibitan sapi ongole murni di masa pemerintahan Presiden Soeharto, melalui Undang- Undang Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 6 Tahun 1967. Sapi ongole memang menjadi ciri khas Pulau Sumba, terutama Sumba Timur. Selain sapi, kekhasan lain Sumba Timur adalah padang rerumputan (sabana). Bentangan sabana kering tampak bagaikan lautan menguning. Kemarau panjang mencapai puncaknya di bulan Oktober. Kondisi alam yang menantang ini menjadi rutinitas bagi sebagian penduduk di Pulau Sumba, yang mengandalkan penghidupan mereka sebagai penggembala.

Memasuki wilayah kecamatan Pandawai, Sumba Timur, misalnya terlihat kawanan sapi berkeliaran di hamparan rerumputan kering. Sumba Timur memang berpotensi mengembangkan peternakan secara ekstensif. Tidak hanya sapi, tetapi juga kuda dan kerbau, atau ternak-ternak kecil lainnya. Statistik Pertanian Sumba Timur (2003) menunjukkan, jumlah ternak sapi potong, kerbau, dan kuda di kabupaten ini mencapai 100.600 ekor. Jumlah ternak di satu kabupaten ini jauh lebih banyak dibanding jumlah ternak di Provinsi Kalimantan Timur (73.200 ekor) atau Papua (74.000 ekor). Kabupaten seluas 7.000,50 kilometer persegi ini terbagi menjadi 15 kecamatan, dan rata-rata di setiap kecamatan terdapat lebih dari 2.000 ekor ternak besar, baik sapi, kerbau, ataupun kuda. Hingga tahun 2003, di Kecamatan Pandawai tercatat terdapat lebih dari 6.000 ekor sapi, sedangkan di kecamatan Panguda Lodu menjadi kecamatan yang memiliki ternak kuda dan kerbau terbanyak, masing-masing 6.095 ekor kuda dan 5.126 ekor kerbau.

Para pengusaha penggemukan memilih sapi SO untuk penggemukan karena memiliki beberapa keuntungan seperti: sapi SO mudah beradaptasi dengan pakan penggemukan dengan sistem koloni, sapi dalam koloni baru dalam pen akan cepat mengenal kawan dalam satu koloni, tidak banyak terjadi perkelahian antar sapi (hanya 1-2 hari). Tahap awal penggemukan dimulai dari penimbangan masing masing sapi untuk menentukan grade berdasarkan berat badan, pen, dan target pakan.

Pemberian multi vitamin dan obat cacing sangat membantu meningkatkan kecernaan pakan yang dikonversi menjadi daging. Fase pakan dibedakan menjadi 3 yaitu starter (DOF 1 – 10), grower (11-60 hari), dan Finisher (60 hari – waktu jual). Persentase hijauan tinggi pada saat starter dan akan terus dikurangi sampai finisher/waktu jual, pakan konsentrat diberikan sebaliknya yaitu dari sedikit dan meningkat secara bertahap.

Pada awal 2008, sapi yang dikelola di feedlot mempunyai rangka yang panjang panjang dan bobot badan awal 400 – 600 kg (masuk dalam kelas Heavy – ekstra Heavy). Kecilnya angka penyusutan karena transportasi (< 2%) dan average feed intake yang selalu meningkat dari hari ke hari (2,3 % - 2,6 % dry matter intake) menghasilkan perfoma yang luar biasa. Dalam jangka waktu pemeliharaan (Days On Feed) 90 hari SO jantan, akan didapatkan kenaikan berat badan 1.6 – 2.0 kg / ekor/ hari, dan rata rata karkas yang dihasilkan di atas 52.5%. Para jagal dan penjual daging sangat menyukai hasil panen penggemukan SO karena selain % karkas tinggi juga tekstur daging yang padat, sedikit atau tanpa lemak dan kematangan daging (berwarna merah yang sangat pas untuk produksi bakso. Pada 2008 harga sapi SO jantan masih berkisar Rp. 22.500 – Rp. 23.000 dan indukan (cow) Rp. 18.000 – Rp. 19.000 /kg berat badan hidup. Pada saat itu harga karkas masih sekitar Rp. 45.000,00, sehingga apabila sapi berat 400 kg (400 X Rp. 22.500 = Rp.9.000.000,00) dipotong mendapatkan 53% karkas (212 kg) seharga Rp. 9.540.000,00 artinya ada keuntungan Rp. 540.000,00 / ekor bagi jagal.

Akhir akhir ini, sapi bakalan yang datang dari Sumba relative lebih kecil kecil (250 kg) dan kondisi badan yang kurang ideal. Sapi dengan berat 250 – 300 kg ini termasuk dalam kategori light – ekstra light, membutuhkan waktu pemeliharaan yang lebih lama yaitu di atas 120 hari. Kenaikan berat badan yang dihasilkan lebih rendah hanya sekitar 1.0 – 1.1 kg/ekor/hari, begitu juga karkas yang didapatkan hanya 50% saja. Makin rendahnya grade sapi bakalan yang masuk ke kandang penggemukan mengindikasikan telah terkurasnya sapi bakalan dengan bobot besar, meningkatnya kejadian inbreeding, atau populasi ternak tidak diimbangangi jumlah pakan yang tersedia terlebih pada musim kemarau.

Semakin menurunnya kualitas sapi SO dan makin tingginya kebutuhan sapi lokal untuk bakalan penggemukan, menuntut pengusaha ternak untuk mengembangbiakan sapi SO dengan system intensif melalui perbaikan managemen pemeliharaan, perkawinan, pakan dan budidaya. Pengembangbiakan sapi SO secara intensif ditujukan untuk pemurnian dan masih menggunakan perkawinan alami. Sapi SO memiliki perfoma reproduksi yang sangat baik, hasil budidaya yang kami dapatkan kebuntingan > 90 % dengan rataan perkawinan 1-2 kali, mas produktif sampai 10 tahun, jarak antar kelahiran 12 – 13 bulan. Dalam perkembangan transfer embrio, sapi SO berreaksi sangat memuaskan terhadap superovulasi pada produksi embrio seperti yang pernah kami lakukan menghasilkan 20 buah embrio fertile kualitas excellent. Perfoma keturunan yang dihasilkan meliputi pertumbuhan yang lebih cepat, pada keturunan betina akan mencapai masa pubertas pada umur 13 bulan dengan berat badan 280 kg, dan berat badan indukan bisa mencapai 500kg. Pada beberapa pengamatan pemeliharaan, sapi SO tingkat reproduksinya sangat jelek di daerah yang dingin di dataran tinggi.

Pemberian pakan untuk breeding tidak membutuhkan pakan dengan kualitas terbaik. Hal ini selain untuk memperkecil biaya untuk produksi pedet juga karena sapi SO memiliki kecernaan yang baik terhadap pakan yang diberikan. Pakan untuk pemeliharaan sapi breeding yang kami berikan meliputi konsentrat 1- 3 kg ( protein kasar 10-11 %, TDN 65% ) dan rumput lapangan atau jerami fermentasi dengan sedikit supplement vitamin E dan Selenium sudah sangat mencukupi.

Dirangkum dari berbagai sumber online
Share:

Tuesday, April 24, 2018

Cara Agar Sapi Doyan Makan, Ini Jamunya!

Bahan-bahan Jamu Ternak Penambah Nafsu Makan Sapi
Ramuan Tradisional Untuk Meningkatkan Nafsu Makan dan Daya Tahan Tubuh Ternak Sapi, Ini Bahan-bahan dan Cara Membuatnya!

Keluhan peternak yang paling sering dibicarakan saat baru memulai usaha penggemukan sapi dan baru membeli sapi dari pasar adalah sapi malas makan atau nafsu makan sapi sangat rendah dan turun drastis. Banyak penyebab sapi baru yang dibeli dari pasar tidak nafsu makan, penyebabnya antara lain pakan yang diberikan bukan pakan yang biasa sapi tersebut makan dipemilik sebelumnya. Bisa juga karena pakan yang terlalu berbau menyengat sehingga sapi tidak suka. Penyebab lain bisa juga sapi tidak doyan makan karena memang kondisi tubuhnya sedang tidak prima atau seperti mau sakit. Jika kondisi ini yang ditemukan peternak maka jamu ternak dibawah ini bisa dijadikan solusi agar sapi anda menjadi doyan makan kembali dan bisa tumbuh dengan optimal.

Cara Membuat Jamu Ternak Yang Terbuat Dari Tanaman Obat Dengan Proses Fermentasi Anaerob.
Solusi peternak untuk menjaga kesehatan, meningkatkan nafsu makan dan metabolisme ternak.

Bahan dan Alat.
1. Temulawak 1 onst
2. Temuireng 1 onst
3. Bawang putih 1 onst
4. Kencur 1 onst
5. Jahe. 1 onst
6. Kunyit/kunir 1 onst
7. Laos/lengkuas 1 onst
8. Daun sirih 15 sd. 20 lembar
9. Daun pepaya 3. sd. 5 lembar
10. Daun kelor. 1 onst
11. Molasses/tetes tebu 0.5 ltr atau gula merah/putih 0.5 kg
12. Stater/probiotik/EM/MOL 0.5 ltr
13. Air sumur/mata air 18 liter
14. Jirigen/galon 20 liter
15. Pengaduk
16. Parut/blender/lumpang/cowek dll

Cara Membuat
1. Haluskan bahan no 1 sd 10.
2. Bisa di peras bisa tidak.
3. Masukam semua bahan no 1 sd 13 kedalam wadah (jirigen/galon) aduk rata.
4. Tutup rapat wadah dan pastikan udara tidak dapat masuk untuk proses fermentasi anaerob. Biarkan sampai 3 hari tanpa membuka tutup.
5. Setelah 3 hari buka tutup wadah utk membuang gas, tutup kembali untuk melanjutkan proses fermentasi.
6. Buka tutup wadah tiap hari 1 sd 2 kali dan tutup kembali utk kelanjutan proses fermentasi.
7. Bila sudah tidak terbentuk gas lagi antara hari 14 proses fermentasi jamu siap di gunakan atau di kemas.
8. Untuk lebih praktisnya pasang slang pada tutup wadah dan ujung slang masukan pada botol berisi air dan gas akan keluar dng sendirinya lewat slang sehingga tidak perlu buka tutup setiap hari dan fungsi air untuk menghambat masuknya udara dalam wadah tapi gas akan keluar karena tekanan gas akan meninggi dengan di tandai gelembung/blekutuk di air.
9. Kemas jamu pada wadah tertutup rapat dan jamu ini bisa bertahan sampai 6 bulan bahkan bisa sampai 12 bulan dengan catatan proses fermentasi sempurna dan wadah penyimpanannya tertutup rapat.

Cara Pemakaian.
1. Untuk menjaga kesehatan bisa di berikan tiap hari atau dua hari sekali dengan dosis 10 ml (2 tutup botol)/1liter air diberikan pada air minum atau comboran .
2. Untuk ternak kurang sehat berikan 2 kali sehari dengan dosis 20 ml (4 tutup) per 1 liter air atau di berikan secara oral (cekoki) sampai ternak sehat kembali.
Inilah resep jamu tradisional ala mbah jengot.

BACK TO NATURE.

Kandungan dan manfaat bahan jamu ternak:

1. Temulawak (curcuma xanthorrgiza) dpt meningkatkan nafsu makan, antioksidan, anti mikroba, anemia. Mengandung kurkumin, kurkuminoid, mineral, atsiri, minyal, lemak, karbohidrat, protein.

2. Temuireng (curcuma heyneana) sebagai obat cacing dan meningkatkan nafsu makan. Mengandung minyak asiri, tamin, kurkumenol.

3. Bawang putih mengandung lebih dari 100 bahan kimia biologis yg bermamfaat anti-baktero, anti-virus, anti-jamur, dan antioksidan.

4. Kencur penambah stamina, penambah nafsu makan, tonikum, anti-bakteri, radang sendi, antioksidan, dan masuk angin. Mengandung pati, mineral, minyak atsiri, sineol.

5. Jahe(zingiber officinale) sebagai anti bakteri, anti jamur, anti oksidan, kembung, memperlancar aliran darah, membuang racun dalam tubuh melalui keringat.

6. Kunyit (curcuma domestica) sebagai anti oksidan, anti mikroba, anti radang, mengandung minyak atsiri dari golongan monoterpen dan sesquitterpen, zat warna kuning disebut kurkuminoid, protein, fosfor, kalium, besi, dan vitamin C.

7. Lengkuas/Laos menambah nafsu makan, gangguan perut kembung, masuk angin, anti jamur, anti bakteri, menghangatkan badan. Mengandung minyak atsiri a.l galongol, galongin, alpinen, kamfer, methyl-cinnamate

8. Daun Sirih (piper betle) anti septik anti mikroba, penyembuh luka, anti radikal bebas.

9. Daun pepaya sebagai pembunuh amuba, obat cacing, dan membantu meningkatkan nafsu makan.

10. Daun Kelor (moringa oleifera) mempunyai kandungan potasium 3x lipat dari pisang, kalsium 4x lipat dari susu, vitamin C 7x lipat dari jeruk, vitamin A 4x lipat dari wortel. Berkasiat obat cacing, alergi, rabun mata, rematik pegel linu radang sendi encok boyok.
Di ambil dari berbagai sumber.

Semoga Bermanfaat

N.B : - Bila ingin bahan jamu yg lebih sederhana cukup tiga bahan : Temulawak, Temuireng, Kunyit/Kunir.

Sumber status fb Sumina
Sapi Sehat - Sapi Super - Sapi Doyan Makan
Share:

Monday, April 23, 2018

Sinkronisasi Estrus Induk Sapi Untuk IB Yang Lebih Efisien

Sapi Pejantan Unggul
Apa Yang Dimaksud Dengan Sinkronisasi Estrus Dan Apa Arti Pentingnya Terhadap Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB)?
Banyak penelitian mencatat bahwa terdapat kaitan erat antara kesulitan deteksi estrus dan rendahnya efisiensi reproduksi pada kelompok sapi perah yang menggunakan inseminasi buatan (IB). Kesulitan deteksi estrus pada sapi perah umumnya sebagai akibat gejala estrus yang lemah atau kurang jelas, berupa birahi tenang (sub-estrus atau silent estrus), akibatnya pelaksanaan inseminasi tidak dilakukan tepat waktu dan berakibat kegagalan konsepsi. Sinkronisasi estrus merupakan teknik manipulasi siklus estrus untuk menimbulkan gejala estrus dan ovulasi pada sekolompok hewan secara bersamaan. Teknik ini terbukti efektif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan inseminasi buatan, efisiensi deteksi estrus, sehingga dapat diaplikasikan untuk memperbaiki reproduktivitas sapi.
Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan birahi, diikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak dengan tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau kebuntingan. Sinkronisasi estrus biasanya menjadi satu paket dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan pengamatan birahi maupun IB terjadwal (timed artificial insemination). Angka konsepsi atau kebuntingan yang optimum merupakan tujuan dari aplikasi sinkronisasi estrus ini.

Pada sapi perah dan sapi potong di Indonesia sebetulnya dapat dilakukan suatu program peningkatan efisiensi reproduksi, dengan tujuan untuk mendapatkan jarak beranak yang optimum 12 – 15 bulan saja. Untuk itu dapat diupayakan skema perkawinan dini segera setelah beranak (early postpartum breeding program). Skema ini dilakukan pada sapi pasca beranak lebih dari 60 hari, dipertahankan BCSnya untuk tetap optimum pasca beranak (3,0 – 3,5), diamati birahinya dengan cermat kemudian dilakukan IB. Namun bagi sapi-sapi yang tidak menunjukkan gejala birahi dengan baik dilakukan sinkronisasi estrus dan IB terjadwal. Program ini  akan dapat meningkatkan efisiensi reproduksi pada sapi perah dan potong milik peternak rakyat di Indonesia. Sinkronisasi estrus sangat feasible (layak) secara ekonomis untuk diaplikasikan pada sapi perah dan potong, walaupun pada ternak milik rakyat dengan manajemen yang masih tradisional.
Teknik sinkronisasi estrus pada sapi baik dengan berbasis penggunaan PGF2 maupun implan progestagen intravagina dapat digunakan untuk perbaikan efisiensi reproduksi sapi perah dan potong pada peternakan rakyat di Indonesia. Inseminasi buatan terjadwal mengikuti sinkronisasi estrus memberikan angka konsepsi yang sama dengan perlakuan pada birahi alami. Biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak sapi masih jauh lebih kecil dibanding dengan kerugian bila tanpa aplikasi teknik ini. Teknik ini sangat layak untuk diaplikasikan ke sapi milik rakyat, karena dapat memberikan peningkatan performan reproduksi serta menghindarkan kerugian lebih lanjut karena masalah subfertilitas maupun infertilitas yang tidak perlu. Performan reproduksi yang dengan sangat nyata dihasilkan dari aplikasi ini, adalah pemendekan jarak beranak, dari beranak tiap 18 – 20 bulan menjadi 12 – 15 bulan.
Implementasi teknik sinkronisasi estrus secara luas diharapkan dapat meningkatkan kinerja reproduksi sapi, meningkatkan produktivitas sapi, meningkatkan penghasilan peternak dan membantu program pemerintah dalam swasembada susu dan daging. Aplikasi teknik sinkronisasi estrus dan ovulasi, bila semua persyaratan budidaya sapi optimum, menurut pengalaman pribadi penyusun sebagai praktisi akan dimungkinkan program one cow one calf in one year.

Manfaat dari tindakan sinkronisasi estrus pada sapi ada beberapa, antara lain:
  • Optimalisasi dan efisiensi pelaksanaan IB. Dengan teknik ini dimungkinkan pelaksanaan IB secara massal pada suatu waktu tertentu.
  • Mengatasi masalah kesulitan pengenalan birahi. Subestrus atau birahi tenang yang umum terjadi pada sapi perah dan potong di Indonesia dapat diatasi dengan teknik sinkronisasi estrus.
  • Mengatasi masalah reproduksi tertentu, misalnya anestrus post partum (anestrus pasca beranak).
  • Fasilitasi program perkawinan dini pasca beranak (early post partum breeding) pada sapi potong dan perah. Teknik ini dapat digunakan untuk mempercepat birahi kembali pasca beranak, pemendekkan days open (hari-hari kosong) dan pemendekkan jarak beranak.
  • Manajemen reproduksi resipien pada pelaksanaan transfer embrio sapi. Dalam program transfer embrio, embrio beku maupun segar (diambil dari sapi donor pada hari ke 7 setelah estrus) ditransfer ke resipien pada fase siklus estrus yang sama. Sinkronisasi estrus biasanya digunakan untuk maksud tersebut.
Persyaratan Sinkronisasi Estrus
Pelaksanaan sikronisasi estrus pada sapi membutuhkan persyaratan tertentu untuk mendapatkan hasil yang optimum. Persyaratan tersebut antara lain:

Sapi dalam keadaan tidak bunting. Hal ini sangat penting, karena kalau sampai sapi bunting diberi perlakuan sinkronisasi estrus, akan berakibat keluron atau abortus. Pemeriksaan kebuntingan dan alat reproduksi sebelum perlakuan harus dilakukan secara cermat untuk memastikan bahwa hewan tidak dalam keadaan bunting.

Hewan harus mempunyai kesehatan alat reproduksi yang baik. Adanya peradangan alat reproduksi, endometritis, metritis, vaginitis, akan sangat berpengaruh pada hasil konsepsinya. Pemeriksaan klinis alat reproduksi perlu dilakukan sebelum dilakukan perlakuan sinkronisasi estrus.

Body condition score (BCS) hewan optimum, antara 3,0 – 3,5. Sinkronisasi estrus pada sapi dengan BCS  dengan BCS terlalu tinggi  4 juga beresiko rendahnya angka konsepsi.

Khusus untuk sinkronisasi estrus menggunakan prostaglandin F2, hewan harus mempunyai korpus luteum pada salah satu ovariumnya. Pemeriksaan adanya korpus luteum angat diperlukan, mengingat PGF2 mempunyai target organ korpus luteum. Sapi yang bersiklus estrus namun belum mempunyai korpus luteum maka perlakuannya ditunda sampai terbentuk korpus luteum yang berukuran cukup besar.

Sebelum dan setelah perlakuan sinkronisasi estrus, hewan harus diberi pakan yang memadai dalam kualitas dan kuantitasnya, dihindarkan dari stres, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada hasil respon hormonal hewan.

Persyaratan tersebut di atas sangat menentukan keberhasilan sinkronisasi estrus dan ovulasi yang fertil, sehingga setelah perlakuan IB akan terjadi ovulasi, fertilisasi dan nidasi, serta menghasilkan kebuntingan maksimum.

Teknik Sinkronisasi estrus
Banyak penelitian mencatat bahwa terdapat kaitan erat antara kesulitan deteksi estrus dan rendahnya efisiensi reproduksi pada kelompok sapi perah yang menggunakan inseminasi buatan (IB). Kesulitan deteksi estrus pada sapi perah umumnya sebagai akibat gejala estrus yang lemah atau kurang jelas, berupa birahi tenang (sub-estrus atau silent estrus), akibatnya pelaksanaan inseminasi tidak dilakukan tepat waktu dan berakibat kegagalan konsepsi.

Sinkronisasi estrus merupakan teknik manipulasi siklus estrus untuk menimbulkan gejala estrus dan ovulasi pada sekolompok hewan secara bersamaan. Teknik ini terbukti efektif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan inseminasi buatan, efisiensi deteksi estrus, sehingga dapat diaplikasikan untuk memperbaiki reproduktivitas sapi.

Penggunaan sinkronisasi estrus kini banyak digabungkan dengan inseminasi pada waktu terjadwal (timed artificial insemination, blind artificial insemination), sehingga tidak perlu lagi dilakukan deteksi estrus setelah perlakuan sinkronisasi estrus. Kombinasi sinkronisasi estrus dan inseminasi buatan pada sapi termasuk peningkatan mutu genetis, efisiensi pelaksanaan inseminasi buatan, adanya kelahiran pedet yang relatif sama umurnya dan meniadakan deteksi estrus. Sinkronisasi estrus telah banyak dikembangkan untuk mengatasi permasalah kesulitan deteksi estrus, sehingga dimungkinkan pelaksanaan IB tepat waktu, pada waktu tertentu.

Sinkronisasi estrus dapat dilakukan dengan 2 metode, pertama dengan pemberian sediaan progesteron untuk meniru kerjaan korpus luteum, kedua dengan prostaglandin F2 untuk melisiskan korpus luteum. Beberapa metode sinkronisasi estrus telah dikembangkan, antara lain dengan penggunaan sediaan progesteron, prostaglandin F2, serta kombinasinya dengan gonadotrophin releasing hormone. Pemberian progesteron berpengaruh menghambat ovulasi, prostaglandin F2 menginduksi regresi korpus luteum, sedangkan GnRH menambah sinergi proses ovulasi.

Metode pertama sinkronisasi estrus dengan pemberian sediaan berbasis progestin. Progestin atau derivat progesteron merupakan sediaan hormon steroid kelamin dan dapat digunakan untuk sinkronisasi estrus pada sapi. Hormon ini bekerja dengan kemampuannya menimbulkan pengaruh umpan-balik negatif ke hipotalamus, sehingga penghentian pemberiaannya akan menyebabkan pembebasan GnRH dari hipotalamus, diikuti dengan pembebasan FSH dan LH dari pituitari anterior, serta terjadilah estrus dan diikuti ovulasi. Sediaan implan progesteron yang kini masih banyak digunakan adalah implan progesteron intravagina controlled internal drug release (CIDR, EazibreedTM, InterAg, Hamilton, New Zealand).

Controlled internal drug release sebagai implan intravagina berisi 1,90 gram progesteron terbukti efektif untuk sinkronisasi estrus pada sapi, tanpa efek samping yang merugikan. Status reproduksi sapi perah yang diinduksi estrus dan ovulasinya dengan implan progesteron intravagina CIDR akan lebih ditingkatkan dengan pemberian senyawa GnRH atau PGF2. Gonadotrophin releasing hormone akan mencegah terjadinya ovulasi tertunda, anovulasi atau korpus luteum yang berumur pendek; sedangkan PGF2 akan melisiskan korpus luteum yang tersisa, sehingga akan lebih meminimumkan kadar progesteron sewaktu implan CIDR dicabut, sebagai akibatnya proses estrus dan ovulasi akan menjadi lebih baik. Implan progestagen memberikan fertilitas terbaik bila diinsersikan selama 7 sampai 10 hari.

Pemberian progestagen lebih dari 14 hari akan menyebabkan sinkronisasi estrus, namun fertilitas yang diinduksi akan sangat menurun. Kenyataan ini ada hubungannya dengan perkembangan folikel persisten, perpanjangan usia folikel dominan dan ovulasi dari oosit yang terlalu tua. Keberhasilan sinkronisasi estrus membutuhkan adanya sinkronisasi perkembangan folikel, untuk menjamin adanya suatu folikel dominan yang sedang tumbuh pada saat pencabutan implan progestagen dan atau saat perlakuan dengan PGF2.

Metode kedua sinkronisasi estrus dengan pemberian sediaan berbasis PGF2. Prostaglandin F2 mempunyai kerjaan melisiskan korpus luteum yang berakibat turunnya kadar progesteron plasma dengan tiba-tiba. Lisisnya korpus luteum diikuti dengan penurunan progesteron yang dihasilkan, akibatnya terjadi pembebasan serentak GnRH dari hipotalamus, diikuti dengan pembebasan FSH dan LH dari pituitari anterior, sehingga terjadilah estrus dan ovulasi. Berbagai metode sinkronisasi estrus dengan menggunakan prostaglandin F2 dikembangkan dengan pesat akhir-akhir ini, diantaranya metode Ov-Synch (PGF2 dikombinasi dengan GnRH), dan modifikasinya seperti Pre-synch, Co-Synch, Heat-Synch, telah banyak dilaporkan.

Hasil fertilitas sinkronisasi estrus berupa angka konsepsi memang cukup tinggi, tidak berbeda dengan hasil konsepsi dari estrus alami. Keberhasilan sinkronisasi estrus pada kelompok sapi sangat tergantung dari penurunan serentak kadar progesteron dalam darah, serta perkembangan dan ovulasi dari folikel ovaria.

Prostaglandin F2 hanya efektif bila ada korpus luteum yang berkembang, antara hari 7 sampai 18 dari siklus estrus; sedangkan penurunan progestagen eksogen hanya efektif bila terjadi regresi korpus luteum secara alami atau induksi. Sinkronisasi estrus menggunakan PGF2 sudah memberikan hasil cukup baik, namun masih banyak terjadi variasi dalam dinamika perkembangan folikel ovaria, serta menghasilkan sinkronisasi yang buruk dalam menimbulkan estrus dan ovulasi. Sebagai misal, induksi luteolisis pada saat ada suatu folikel dominan matang akan menimbulkan estrus dalam waktu 2 sampai 3 hari, tetapi butuh waktu lebih lama bila satu folikel masih harus diseleksi dari satu gelombang pertumbuhan folikel baru.

Kebanyakan penelitian sinkronisasi estrus dengan berbasis implan progesteron intravagina pada sapi hanya melaporkan kemampuan suatu agen sinkronisasi untuk menimbulkan estrus dan hasil konsepsinya setelah perlakuan inseminasi buatan, maupun berbasis prostaglandin F2. Dinamika perkembangan folikel ovulasi dan korpus luteum akibat perlakuan sinkronisasi estrus pernah dilaporkan, namun kurang komprehensif.

Teknik sinkronisasi estrus pada sapi baik dengan berbasis penggunaan PGF2 maupun implan progestagen intravagina dapat digunakan untuk perbaikan efisiensi reproduksi sapi perah dan potong pada peternakan rakyat di Indonesia. Inseminasi buatan terjadwal mengikuti sinkronisasi estrus memberikan angka konsepsi yang sama dengan perlakuan pada birahi alami. Biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak sapi masih jauh lebih kecil dibanding dengan kerugian bila tanpa aplikasi teknik ini. Teknik ini sangat layak untuk diaplikasikan ke sapi milik rakyat, karena dapat memberikan peningkatan performan reproduksi serta menghindarkan kerugian lebih lanjut karena masalah subfertilitas maupun infertilitas yang tidak perlu. Performan reproduksi yang dengan sangat nyata dihasilkan dari aplikasi ini, adalah pemendekan jarak beranak, dari beranak tiap 18 – 20 bulan menjadi 12 – 15 bulan.

Referensi
Bartolome, J. A., Silvestre, F. T., Artechte, A. C. M., Kamimura, S., Archbald, L. F. and Thatcher, W. W. 2002. The use of Ovsynch and Heatsynch for re-synchronization of cows open at pregnancy diagnosis by ultrasonography. J. Dairy Sci. 81: 390-342.
Bo, G. A., Cutaia, L., Chesta, P., and Moreno, D. 2004. The use of ECG to increase pregnancy rates in postpartum beef cows following treatment with progesterone vaginal devices and estradiol benzoate and fixed time AI. Reprod. Fertil. Develop. 16 (2): 127.
Cartmill, J. A., El-Zarkouny, S. Z., Hensley, B. A., Lamb, G. C. and Stevenson, J. S. 2001. Stage of cycle, incidence and timing of ovulation and pregnancy rate in dairy cattle after three timed breeding protocols. J. Dairy Sci. 84: 1051-1059.
Cavalieri, J., Coleman, C., Rodrigues, H., Macmillan, K. L. and Fitzpatrick, L. A. 2002. The effect of timing of administration of oestradiol benzoate on characteristics of oestrus, timing of ovulation and fertility of Bos indicus heifers synchronized with a progesterone releasing intravaginal insert. Austral. Vet. J. 80: 217-223.
Cavalieri, J., Hepworth, G., Smart, V. M., Ryan, M. and Macmillan, K. L. 2007. Reproductive performance of lactating dairy cows and heifers synchronized for a second insemination with an intravaginal progesterone-releasing device for 7 or 8 d with estradiol benzoate injected at the time of device insertion and 24 h after removal. Theriogenology 67: 824-834.
Chebel, R. C., Santos, J. E. P., Rutigliano, H. M. and Cerri, R. L. A. 2007. Efficacy of an injection of dinoprost tromethamine when given subcutaneously on luteal regression in lactating Holstein cows. Theriogenology 67: 590-597.
Colazo, M. G., Small, J. A., Ward, D. R., Erickson, N. E., Kastelic, J. P. and Mapletoft, R. J. 2004. The Effect of presynchronization on pregnancy rate to fixed-time AI in beef heifers subjected to a Cosynch protocol. Reprod. Fertil. Develop. 16 (2): 128-130.
Sumber: https://dokterhewanku.wordpress.com
Share:

Friday, April 20, 2018

Berapa Kebutuhan Air Minum Sapi Per Hari?

Apa manfaat Air Minum Bagi Ternak Sapi dan Berapa Banyak Kebutuhan Air Minum Setiap Harinya?
Pada tubuh ternak sapi, air memiliki peranan yang sangat penting. Air digunakana sebagai media untuk mengatur suhu tubuh, membantu proses pencernaan, mengangkat zat-zat pakan, dan yang paling penting adalah mengeluarkan bahan-bahan yang sudah tidak berguna dari dalam tubuh sapi.


Namun, tidak semua sapi memiliki kebutuhan air yang sama. Kebutuhan akan air tersebut tergantung kepada beberapa faktor seperti dari jenis apa sapi tersebut, kondisi iklim, tempat bermukim sapi tersebut, umur sapi dan jenis pakan yang di berikan. Sapi yang berumur lebih muda cenderung lebih banyak membutuhkan air dibandingkan dengan yang lebih tua.

Kebutuhan sapi akan air dapat diberikan dari berbagai cara. Pemenuhan kebutuhan air dapat dilakukan melalui air minum. air yang terkandung didalam pakan atau melalui air yang berasal dari metabolisme zat yang terkandung didalam pakan. Pada dasarnya semua bahan pakan mengandung air. Untuk bahan pakan kasar seperti hijauan segar atau rerumputan kandungan airnya cukup tinggi, hingga 85 %. Oleh sebab itu, hewan tropis, seperti sapi dapat bertahan hidup tanpa air minum. Sapi-sapi didaerah tropis dapat bertahan hidup dengan mengandalkan air dari pakan hijauan yang dikonsumsi. Namun, untuk bahan pakan berupa biji-bijian, kandungan airnya lebih sedikit sekitar 10-25 % saja.

Seekor sapi setiap hari rata-rata membutuhkan air antara 3-6 liter/1Kg pakan kering. Oleh sebab itu, air harus cukup tersedia di kandang apabila menginginkan pertumbuhan sapi yang baik.

Air memang tidak dapat terlepas dari mahluk hidup. Pada umumnya, kandungan air dalam tubuh hewan mencapai 70 % dari berat tubuhnya. Oleh sebab itu, tidak dapat disangkal jika air termasuk salah satu komponen yang sangat penting dalam tubuh ternak

Bagaimana jika prosentase air dikurangi sedikit saja? Jika prosentase tersebut berkurang, misalnya 20 % saja, akan berakibat cukup fatal pada tubuh ternak. Lebih parahnya lagi, kekurangan air sebanyak itu menyebabkan kematian. Sapi dan kerbau memerlukan 25 sampai 40 liter air per ekor per hari. Kambing dan domba memerlukan 1 sampai 3 liter. Air minum ini harus bersih. Hewan harus diberikan minum setiap saat, baik secara diangkut ke kandang, pada tempat hewan diikat ataupun di padang rumput. Kekurangan air minum mengakibatkan hewan tidak makan sehingga produksi maksimum tidak tercapai. Pemberian pelepah pisang memang dapat mencukupi kebutuhan air bagi hewan, tetapi hewan tidak makan atau merumput secukupnya karena telah penuh dengan serat pelepah pisang. Berikanlah air minum bersih dalam ember setiap hari untuk hewan dalam kandang. Kerbau harus diberikan kesempatan untuk berkubang selama 2 atau 3 hari setiap hari agar sehat dan segar.

Disamping Membutuhkan Air, Sapi Juga Sangat Membutuhkan Mineral terutama Garam


Garam (NaCl) sangat diperlukan oleh hewan. Petani harus menyediakan garam dikandang setiap saat sehingga hewan dapat menjilatnya. Suatu campuran yang terdiri dari 50 % garam dan 50 % dicalcium phosphat harus disediakan setiap saat. Sapi dan kerbau akan menghabiskan 2 kg campuran ini selama satu bulan. Kambing dan domba memerlukan sekitar 200 gr/ekor setiap bulan. Juga beberapa mineral harus disediakan di kandang. Mineral tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh ternak, akan tetapi didapat dari pakan seperti hijauan yang dimakan ternak. Jika pakan yang dimakan ternak sedikit mengandung atau bahkan tidak mengandung mineral sehingga ternak kekurangan mineral padahal seperti kita ketahui setiap hari ternak memerlukan mineral. Bila ternak kekurangan mineral maka pertumbuhan ternak akan terhambat sehingga berefek kepada terganggunya proses reproduksi dan produksi. Alasan itulah yang mendasari betapa pentingnya mineral bagi ternak.

Adapun faktor penyebab ternak kekurangan mineral adalah akibat dari kurangnya kandungan mineral pada tanaman pakan ternak. Hal ini diakibatkan oleh tanah tempat tumbuh hijauan ternak tersebut hanya mengandung sedikit unsure mineral sehingga cuma sedikit yang bisa diserap oleh tanaman yang kita berikan untuk ternak.

Fungsi dan Manfaat Mineral  Bagi Ternak Sapi
  • Tanpa adanya mineral vitamin tidak akan berfungsi dengan sempurna karena salah satu fungsi mineral adalah membantu pembentukan vitamin dalam tubuh ternak. Jadi percuma saja kita memberikan vitamin untuk ternak bila kebutuhan mineral ternak tidak cukup.
  • Membantu pembentukan enzim dalam tubuh ternak. Seperti halnya vitamin, enzim pun membutuhkan mineral untuk bisa terbentuk.
  • Ternak bisa mengatasi atau mentolerir kekurangan vitamin dalam waktu yang relative lama, tetapi tidak untuk kekurangan mineral.
Fungsi mineral yang sangat penting ini terkadang tidak dipahami atau malah dianggap remeh oleh petani maupun orang-orang yang terlibat dalam dunia peternakan. Hal ini mungkin dikarenakan kebutuhan mineral yang memang tidak sebanyak kebutuhan nutrisi. Untuk mengatasi permasalan diatas kita bisa berikan ternak berupa MINERAL BLOK yang beredar dipasaran. Gantungkan mineral blok di kandang ternak sehingga ternak bisa menjilatnya kapan saja dibutuhkan.

Toleransi terhadap mineral (jumlah garam) dalam pasokan air juga bervariasi tergantung jenis hewan. Unggas sensitif, dan ruminansia hewan paling sensitif. Secara umum, total kandungan garam terlarut:
  • Kurang dari 1.000 mg / L dianggap rendahnya tingkat salinitas cocok untuk semua jenis ternak.
  • Kandungan garam 1.000 mg / L dan 3.000 mg / L dapat memuaskan untuk semua jenis ternak tetapi dapat menyebabkan kotoran berair pada unggas atau diare pada ternak tidak yang tidak terbiasa diberi garam.
  • Kadar garam di atas 3.000 mg / L tidak dianjurkan untuk unggas dan ternak ruminasia.
  • Kadar garam 5.000 mg / L tidak dianjurkan untuk hewan menyusui.
  • Hindari tingkat di atas 7.000 mg / L untuk semua ternak.
Jaga Kesehatan ternak Anda dengan memberikan Cukup Air dan Mineral (Garam). Semoga Bermanfaat.
Share:

Perbedaan Antara Karkas Panas dan Dingin Serta Istilah Lain Dalam Pemotongan Sapi

Apa yang dimaksud dengan karkas, berat potong, tebal lemak, lemak ginjal, pelvis dll?

Berikut ini Istilah-istilah Dalam Perhitungan Karkas dan Daging Sapi Potong Mulai Persentase Karkas Sampai Tebal Lemak Daging

Seseorang yang akan terjun dan berkecimpung dalam bisnis jagal atau bisnis daging, setidaknya harus mengetahui berbagai macam istilah yang biasa digunakan dalam dunia jagal atau pemotongan ternak sapi.

Banyak istilah yang kadang memiliki arti yang berbeda diantara daerah satu dengan daerah yang lain padahal penyebutan atau nama istilahnya sama. Tetapi secara umum istilah-istilah untuk perhitungan karkas dan daging sapi secara garis besar memiliki makna yang sama dan bisa digunakan secara umum.

Berikut ini beberapa istilah umum yang sangat sering dipakai dalam perhitungan daging sapi potong dan juga perhitungan karkas dan sebaiknya dimengerti oleh para calon "pemain" baru dalam dunia perdagingan terutama daging ternak sapi potong.

Bobot potong adalah hasil penimbangan sapi sebelum disembelih dan telah dipuasakan selama ± 24 jam. Selama pemuasaan air minum disediakan secara ad libitum.

Bobot karkas panas atau segar adalah hasil penimbangan karkas sebelum dimasukkan ke dalam chilling room.

Persentase karkas panas adalah perhitungan berdasarkan perbandingan bobot karkas panas dengan bobot potong dikalikan 100 persen.

Bobot karkas dingin atau layu adalah hasil penimbangan karkas setelah disimpan dalam chilling room selama ± 24 jam.

Persentase karkas dingin adalah perhitungan berdasarkan perbandingan bobot karkas dingin dengan bobot potong dikalikan 100 persen.

Bobot komponen karkas adalah bobot dari masing-masing komponen utama karkas setelah dipisahkan. Komponen karkas terdiri dari daging, trim lemak dan tulang.

Persentase komponen karkas adalah hasil perhitungan berdasarkan perbandingan bobot dari masing-masing komponen karkas (daging, trim lemak dan tulang) dengan bobot karkas dingin.

Bobot potongan komersial karkas atau wholesale cuts adalah bobot dari masing-masing potongan seperti: chuck, blade, cuberoll, brisket dan shin yang terdapat pada belahan seperempat karkas bagian depan (forequarter) dan striploin, tenderloin, rump, silverside, topside, knuckle, flank dan shank yang terdapat pada belahan seperempat karkas bagian belakang (hindquarter).

Persentase potongan komersial karkas (wholesale cuts) adalah hasil perhitungan berdasarkan perbandingan bobot dari masing-masing potongan komersial dengan bobot karkas dingin dikalikan 100 persen.

Tebal lemak pangkal ekor (TLPE) atau anal fold adalah hasil pengukuran tebal lipatan lemak pada pangkal ekor dengan dengan menggunakan kaliper. TLPE terdiri dari kulit dan lemak yang diukur pada lokasi antara tulang ischium dengan pangkal ekor.

Tebal lemak punggung pada mata rusuk ke-12 (TLR 12) adalah hasil pengukuran tebal lemak subkutan yang menutup otot longissimus dorsi (longissimus thoracis et lumborum), pada posisi tepat ¾ bagian irisan melintang otot longissimus dorsi sesuai petunjuk Murphey et al., (1960).

Tebal lemak rump P8 adalah hasil pengukuran tebal lemak subkutan yang dilakukan di daerah rump yaitu pada titik perpotongan antara garis vertikal dari dorsal tuberosity dengan tiga bagian tuber ischii yang sejajar dengan tulang chine dan garis horizontal dari ujung prossesus spinosus dari tulang vertebra sacralis yang ketiga, sesuai petunjuk Moon (1980).

Luas urat daging mata rusuk adalah hasil pengukuran yang dilakukan pada irisan melintang otot Longissimus dorsi di antara rusuk ke-12 dan 13. Pengukuran dilakukan dengan melukis batas luas penampang melintang otot Longissimus dorsi menggunakan spidol permanen pada plastik transparan yang ditempel pada permukaan irisan otot. Perhitungan luas dilakukan dengan menempelkan luas lukisan tadi pada plastik grid. Satuan dari plastik grid adalah 1 inci2 tiap 10 titik. Jumlah titik yang tercakup oleh bidang penampang melintang tersebut dijadikan ukuran luas urat daging mata rusuk dalam inchi2.

Persentase lemak ginjal, pelvis dan jantung Persentase lemak ginjal, pelvis dan jantung (GPJ) adalah hasil perhitungan berdasarkan perbandingan dari jumlah keseluruhan bobot lemak yang menyelubungi ginjal, lemak pada rongga pelvis dan lemak yang menyelubungi jantung dengan bobot karkas segar dikalikan 100 persen.

Share:

Thursday, April 19, 2018

Mengenal Jenis Sapi Limpo dan Simpo, Apa Ciri-cirinya?


Ciri-ciri Sapi Hasil Persilangan, Sapi Limousin - PO (Limpo) dan Simental - PO (Simpo)

Sekilas Sapi Limousin. Sapi Limousin mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik. Merupakan sapi bangsa Bos taurus yang dikembangkan pertama kali di Prancis. Sapi ini merupakan tipe sapi pedaging. Secara genetik, sapi limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, bertipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, mampu menambah konsumsi lebih tinggi di luar kebutuhan yang sebenarnya, serta memiliki metabolisme yang cepat sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. Sapi limousin murni sulit ditemukan di Indonesia karena telah mengalami persilangan dengan sapi lokal.

Kebanyakan sapi limousin yang ada di Indonesia adalah limousin cross yang telah disilangkan dengan sapi lokal. Hadi dan Ilham (2002) menambahkanbahwa salah satu jenis sapi impor yang didatangkan ke Indonesia ialah sapi Limousin, yang memiliki keunggulan dibanding sapi lokal yaitu pertambahan bobot badan harian (PBBH) berkisar antara 0,80-1,60 kg/hari, konversi pakan tinggi dan komposisi karkas tinggi dengan komponen tulang lebih rendah.

Sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi ongole merupakan keturunan sapi zebu dari India yang mulai diternakan secara murni di pulau Sumba, sehingga dikenal dengan nama sapi “Sumba” ongole. Ciri-ciri sapi ongole antara lain berpunuk besar, memiliki lipatan kulit di bawah leher dan perut, telinga panjang dan menggantung, kepala relatif pendek dengan posisi melengkung, mata besar menunjukkan ketenangan, serta bulunya berwarna putih.

Hasil persilangan sapi ongole dengan sapi lokal Indonesia (sapi Jawa) menghasilkan sapi yang mirip dengan sapi ongole dan dikenal dengan nama sapi PO (peranakan ongole). Sapi PO murni sudah sulit ditemukan, karena telah banyak disilangkan dengan sapi brahman. Ukuran tubuh sapi PO lebih kecil dibandingkan dengan sapi ongole. Punuk dan gelambir juga kelihatan lebih kecil atau sangat sedikit. Warna bulunya bervariasi, tetapi kebanyakan berwarna putih atau putih keabu-abuan. Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan, dan cepat bereproduksi.

Tinggi sapi ongole jantan berkisar 150 cm dengan berat badan mencapai 600 Kg. Sementara itu, sapi betina memiliki tinggi badan berkisar 135 cm dan berat badan 450 Kg. Pertambahan bobot badan sapi ongole dapat mencapai 0,9 Kg per hari dengan kualitas karkas mencapai 45 – 58%. Rasio daging dengan tulangnya adalah 1 : 423, sapi ongole termasuk lambat untuk mencapai dewasa, yaitu sekitar umur 4 – 5 tahun. Untuk sapi PO, bobot badan rataan sekitar 200 – 350 kg dengan pertambahan bobot badan 0,6 – 0,8 Kg per hari jika dipelihara dengan baik.

Pada sapi PO, warna bulu badan putih abu-abu baru muncul ketika lepas sapih dan menjadi semakin besar kemungkinan munculnya pada saat umur yearling. Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.

Sapi Limpo (Limousin Peranakan Ongole)



Sapi Limpo (Limousin PO)

Persilangan sapi limousin dengan sapi ongole dikenal dengan nama sapi limousin ongole (limpo). Sapi limpo memiliki ciri tidak berpunuk dan tidak bergelambir, serta warna bulunya hanya cokelat tua kehitaman dan cokelat muda.

Pada sapi LIMPO (Limousin cross dengan PO), variasi warna bulu badannya hanya coklat tua dan coklat putih. Pada sapi LIMPO, warna bulu badan yang dominan dari lahir sampai yearling adalah coklat tua. Warna coklat putih yang sering muncul saat lahir, menjadi lebih sering muncul pada saat sapi mencapai umur yearling. Dalam jumlah kecil, ada sapi LIMPO yang saat lahir mempunyai warna bulu badan putih (seperti PO), tetapi semua nya akan berubah menjadi coklat putih setelah sapi mencapai umur yearling.

Terjadinya variasi dan perubahan terhadap warna bulu badan sapi silangan ini, menjadi pertimbangan penting dalam ikut menentukan sebaiknya sapi silangan yang mana, SIMPO atau LIMPO, yang cocok dikembangkan di daerah DR (dataran rendah) atau DT (dataran tinggi), karena Gebremedhin (1984) dan Robertshaw (1984) menyatakan bahwa warna bulu sapi sangat berpengaruh pada mekanisme pengaturan temperatur tubuh sapi hubungannya dengan pengaruh panas lingkungan ; sapi yang bulunya cenderung ke arah warna gelap, lebih cocok dikembangkan di daerah berintensitas sinar matahari lebih rendah.

Sapi Limousin Peranakan Ongole (LIMPO) merupakan sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Limousin dengan induk sapi PO, kebanyakan sapi-sapi ini merupakan hasil perkawinan IB, sapi LIMPO sebagai turunan sapi tipe besar sehingga secara genetic mempunyai laju pertumbuhan yang lebih besar dan lebih cepat dibanding sapi PO (Sarwono dan Arianto, 2003). Hastuti (2007) menyatakan bahwa karakteristik eksterior sapi LIMPO adalah warna sekitar mata bervariasi coklat sampai hitam, moncong warna hitam dengan sebagian kecil berwarna merah.

Seperti sudah diketahui bahwa Sapi Limpo dan Simpo adalah singkatan dari Simmental-PO dan Limousin-PO, keduanya merupakan sapi hasil kawin silang (crossbreeding) antara sapi PO dengan Simmental ataupun Limousin. Sapi-sapi ini belakangan sering kita temui karena sangat disukai peternak. Peternak lebih menyukai sapi jenis ini dibanding sapi lokal (sapi PO) karena berat lahir yang lebih besar, pertumbuhan lebih cepat, adaptasi baik pada lingkungan serta pakan yang sederhana, ukuran tubuh dewasa lebih besar dan penampilan yang eksotik.

Alasan ini mengakibatkan nilai jual yang lebih tinggi, pendapatan peternak lebih besar, serta dapat menjadi kebanggaan peternak. Pada dasarnya sapi hasil persilangan ini (Simpo dan Limpo) diperuntukkan sebagai sapi final stock (sapi yang dipersiapkan untuk langsung dipotong). Namun, pemanfaatan sapi-sapi ini sebagai indukan menyebabkan beberapa fenomena yang disadari atau tidak, justru merugikan peternak. Selain juga menyebabkan adanya ancaman kepunahan bangsa sapi lokal.

Kinerja dan Anomali Reproduksi Sapi Betina Crossbreeding

Aplikasi IB menggunakan bibit Bos taurus (Simmental dan Limousin) pada indukan sapi jenis Simpo atau Limpo mengakibatkan penurunan kinerja reproduksi, antara lain semakin menurunnya angka konsepsi (conception rate = CR) dan semakin meningkatnya jumlah inseminasi per kebuntingan (services per conception = S/C) Pengamatan Putro (2008) pada kelompok sapi PO dan silangan akseptor IB di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan hal tersebut (Tabel 1).

Tabel 1. Kinerja reproduksi sapi PO dan silangan PO-Simmental akseptor IB

Kinerja Reproduksi PO F1 F2 F3 F4

Angka konsepsi (CR) 80% 68% 60% 39% 34%

Inseminasi per konsepsi (S/C) 1,20 1,90 2,30 3,40 3,50

Endometritis 8% 17% 22% 31% 28%

Repeat breeding (kawin berulang) 28% 38% 47% 62% 68%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa angka konsepsi atau kemungkinan terjadinya kebuntingan sapi Simpo jika dikawinkan dengan bibit Simmental semakin menurun dan lebih rendah dibanding sapi lokal (sapi PO). Begitu juga kemungkinan keberhasilan IB {Inseminasi per konsepsi (S/C)} pada Simpo keturunan keempat mencapai angka kemungkinan 1 kali keberhasilan setelah lebih dari 3 kali IB.

Pada peternakan sapi rakyat, pemeliharaan tradisional dan pakan yang kurang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya agaknya merupakan penyebab utama menurunnya kinerja reproduksi ini. Disamping itu, masalah pakan sangat mempengaruhi skor kondisi tubuh (SKT) yang umumnya lebih rendah dari optimum bagi proses reproduksi (3,0-3,5, dari skor 1,0-5,0). Rerata SKT sapi silangan yang relatif rendah ini sangat berpengaruh pada kinerja reproduksi. Penurunan kinerja reproduksi ini oleh Diwyanto (2002) diduga sebagai akibat adanya pengaruh interaksi lingkungan genetik, di samping kemungkinan telah banyak terjadi inbreeding akibat persilangan yang tidak terencana dan tidak tercatat. Dari pengamatan pedet-pedet hasil IB, perkawinan silang akan banyak memunculkan sifat-sifat gen resesif, antara lain berbentuk kematian pedet dalam kandungan, lahir mati (stillbirth), kasus-kasus teratologi seperti tidak mempunyai lubang anus.

Pengamatan Putro (2008), semakin tinggi darah Bos taurus akan membuat sapi semakin rentan terhadap investasi cacing hati (fasciolasis) dan cacing porang (paramphistomiasis). Keadaan ini sangat mengurangi efisiensi pakan dan akibatnya jelas kondisi sapi yang terlalu kurus atau mempunyai SKT rendah (dibawah 2,0) serta berakibat dengan tumbulnya infertilitas metabolik. Anomali reproduksi sangat berkaitan erat dengan rendahnya SKT dan infertilitas metabolik, terutama berbentuk hipofungsi ovaria (ovarian quiscence), sista folikel (anovulatory follicle), ovulasi tertunda (delayed ovulation) dan korpus luteum persisten (persistency of corpus luteum) dan endometritis subklinis (subclinical endometritis).

Ovulasi Tertunda (delayed ovulasi) atau birahi panjang

Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah ovulasi tertunda (delayed ovulasi). Ovulasi tertunda (delayed ovulation), merupakan akibat defisiensi LH lebih ringan lagi. Ciri-ciri sapi yang mengalami ovulasi tertunda biasanya memiliki waktu birahi yang lebih panjang. Normalnya sapi PO memilikiKondisi ini lebih sering dijumpai pada sapi silangan dengan Bos taurus, semakin meningkat dengan semakin tingginya angka F.

Penanganan Anomali Reproduksi Sapi Crossbreeding

Berdasarkan temuan mengenai status reproduksi sapi crossing sapi lokal X Bos taurus (Simmental dan Limousin) dengan segala permasalahannya saran untuk perbaikan efisiensi reproduksinya sebagai berikut:

1. Breeding policy untuk sapi potong perlu segera diimplementasikan, seperti ditetapkan dalam crossbreeding darah Bos taurus-nya jangan melebihi 75% (maksimum F2) setelah itu disilangkan balik (backcrossing), untuk meminimumkan kasus anomali reproduksi.

2. Pakan yang mencukupi kualitas dan kuantitasnya, untuk mempertahankan SKT optimum untuk reproduksi (3,0-3,5), di samping pemberian obat cacing berspektrum luas untuk mengatasi cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis), paling tidak 2 kali setahun merupakan kunci bagi penanggulangan reproduksi klinis sapi crossing sapi lokal x Bos taurus.

3. Manajemen peternakan yang keliru merupakan penyebab rendahnya efisiensi reproduksi pada sapi silangan, utamanya adalah defisiensi pakan, sistem perkandangan dan pengamatan birahi. Untuk itu perlu peningkatan manajemen peternakan, perbaikan pakan dan kesehatan hewan.

4. Penanganan infertilitas metabolik dan nutrisi, dengan perbaikan pakan dan perbaikan skor kondisi tubuh (Putro, 2009)

Inseminasi buatan memungkinkan program crossbreeding antara sapi betina lokal dan semen beku pejantan Bos taurus (Simmental dan Limousin). Keadaan ini menyebabkan jumlah sapi silangan F1, F2, F3 dan F4 semakin banyak dijumpai, serta semakin sulitnya ditemui sapi PO di pulau Jawa. Fakta menunjukkan bahwa terjadi penurunan kinerja reproduksi dan peningkatan anomali reproduksi pada sapi-sapi indukan tersebut. Kinerja reproduksi dan anomali reproduksi pada sapi indukan silangan dapat diperbaiki dengan peningkatan manajemen peternakan, perbaikan pakan dan kesehatan hewan.

Sumber:

Putro, Prabowo Purwono Putro. 2009. Dampak Crossbreeding Terhadap Reproduksi Induk Turunannya: Hasil Studi Klinis. Disampaikan pada Lokakarya Crossbreeding Sapi Potong di Indonesia: Aplikasi dan Implikasinya terhadap Perkembangan Ternak Sapi di Indonesia, Lustrum VIII, Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta 8 Agustus 2009.

Potensi perkembangan Sapi Potong

Sapi merupakan penghasil daging utama di Indonesia. Konsumsi daging sapi mencapai 19 persen dari jumlah konsumsi daging Nasional (Dirjen Peternakan, 2009). Konsumsi daging sapi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 mencapai 4,1 kg/ kapita/tahun meningkat menjadi 5,1 kg/kapita/tahun pada tahun 2007. Namun peningkatan konsumsi daging ini tidak diimbangi dengan peningkatan populasi ternak (ketidak seimbangan antara supply dan demand), sehingga diseimbangkan dengan impor daging sapi setiap tahun yang terus meningkat sekitar 360 ribu ton pada tahun 2004 menjadi 650 ribu ton pada tahun 2008 (Luthan, 2009).

Grafik Pertumbuhan Populasi Sapi Potong,kambing dan kerbau di Indonesia pada 5 tahun terakhir,



Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan

Dari table pertambahan populasi ternkan sapi potong, kambing dan juga kerbau dapat dilihat betapa rendahnya populasi ternka sapi potong jika dibandingkan dengan jumlah populasi masyarakat Negara Indonesia, tentunya tidak memenuhi konsumsi daging perkapita pertahunnya.

Dapat juga dilihat grafik dibawah ini konsumsi daging (daging sapi, daging ayam ras/broiler, daging ayam kampung) di Indonesia perkapita selama 5 tahun terakhir;



Sumber : National Sosio-Economic Survey, 2007-2013

Dari tabel konsumsi daging perkapita dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat perbandingan yang sangat jauh konsumsi daging ayam ras/broiler dengan daging sapi, dalam 3 tahun terakhir konsumsi perkapita daging sapi jjuga mengalami penurunan padahal jika dilihat dari kebijakan pemerintah kita telah melakukan ekspor daging sapi dari Australia untuk memenuhi konsumsi daging kenyataannya sangat berbeda dengan apa yang kita dapatkan dilapangan.

Untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada sapi potong impor, Depertemen Pertanian kembali mencanangkan program swasembada daging pada tahun 2014 dengan melakukan kajian mendalam melalui program ”Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi ( P2SDS )”. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain revitalisasi program pembibitan dengan pendistribusian bibit sapi potong ke berbagai propinsi potensial untuk dikembangkan secara intensif. Idealnya peningkatan populasi sapi setidaknya mencapai 7 persen per tahun (Dirjen Peternakan, 2009).

Pada umumnya sapi potong yang dipelihara peternak di Negara kita adalah sapi Lokal, sapi Bali, Simental, Peranakan Ongole, Limousine, Brahman, Angus dan hasil persilangan antara Brahman dan Angus yang dikenal dengan nama Brangus.

Kondisi lahan yang kurang subur merupakan kendala utama kurang tersedianya pakan hijauan. Keringnya lahan pertanian di suatu wilayah menyebabkan tidak semua jenis tanaman hijauan dapat tumbuh subur. Sistem pertaniannya sangat bergantung pada daur iklim khususnya curah hujan. Oleh karena lahan pertanian berupa lahan kering maka di samping bercocok tanam sebagai kegiatan utama, untuk meningkatkan pendapatan petani juga memelihara ternak (Abdurrahman et al., 1997). Pengembangan usaha ternak sapi potong rakyat di suatu daerah dilakukan dengan memanfaatkan limbah pertanian mengingat penyediaan rumput dan hijauan pakan lainnya sangat terbatas. Limbah pertanian yang berasal dari limbah tanaman pangan yang memiliki potensi untuk pakan adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, daun ubi jalar, daun singkong serta limbah pertanian lainnya yang ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh pola pertanian tanaman pangan di suatu wilayah (Febrina dan Liana 2008).

Persilangan bangsa sapi Bos indicus (Persilangan Ongole) dengan bangsa sapi Bos taurus (Sapi Limousin) bertujuan untuk menghasilkan sapi potong yang memiliki reproduksi dan pertumbuhan yang bagus. Pemeliharaan sapi Persilangan Limousin lebih disukai oleh peternak karena memiliki tubuh yang lebih besar serta harga jual yang lebih tinggi dari sapi lokal.

Sapi Bos taurus (Limousin) mempunyai sifat reproduksi yang tinggi, ukuran tubuh besar dengan J. Ternak Tropika Vol. 12, No.2: 76-80, 2011 75 kecepatan pertumbuhan sedang sampai tinggi, sedangkan bangsa sapi Bos indicus (PO) mempunyai sifat yang kurang baik dalam hal reproduksi dan kecepatan pertumbuhannya, tetapi sifat menyusui terhadap anaknya (mothering ability) sangat bagus. Dari kelebihankelebihan yang dimiliki oleh kedua bangsa tersebut diharapkan mampu terekspresikan pada hasil silangannya. Persilangan yang memanfaatkan heterosis hanya dapat meningkatkan karakteristik produksi, tetapi tidak reproduksinya.. Hal itu terlihat dari jarak beranak yang mencapai 20 bulan, yangterkait erat dengan tingginya anestrus pasca beranak serta tingginya kawin berulang. (Astuti 2004). Tinggi rendahnya efisiensi reproduksi ternak dipengaruhi oleh lima hal yaitu . sngka kebuntingan (conception rate); jarak antar kelahiran (calving interval); jarak waktu antara melahirkan sampai bunting kembali (service periode); angka kawin per kebuntingan (service per conception); angka kelahiran (calving rate) (Hardjopranjoto, 1995).

Solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan efisiensi dan efektifitas reproduksi dengan cara persilangan bangsa sapi Bos Indicus (Persilangan Ongole) dengan bangsa sapi Bos taurus (Sapi Limousin) sehingga impor sapi dapat dikurangi. Penampilan reproduksi di peternakan rakyat secara umum masih tergolong rendah, sehingga perlu adanya evaluasi reproduksi sapi potong pada paritas berbeda.

Paritas adalah tahapan seekor induk ternak melahirkan anak. Paritas pertama adalah ternak betina yang telah melahirkan anak satu kali atau pertama. Demikian juga untuk kelahirankelahiran yang akan datang disebut paritas kedua dan seterusnya (Hafez, 2000). Daya reproduksi ternak pada umumnya dipengaruhi terutama lamakehidupan, dimana lama kehidupan produktif sapi potong lebih lama bila dibandingkan dengan sapi perah yaitu 10 sampai 12 tahun dengan produksi 6 sampai 8 anak. Faktor ini sangat penting bagi peternakan dan pembangunan peternakan, karena setiap penundaan kebuntingan ternak, mempunyai dampak ekonomis yang sangat penting (Toelihere, 1985).

Peningkatan produktivitas sapi potong melalui program persilangan (crossbreeding) antara sapi Limousin atau Simmental dengan sapi Peranakan Ongole telah lama dilakukan melalui sistem perkawinan inseminasi buatan (IB). Menurut Hardjosubroto (1994), tujuan utama dari persilangan adalah menggabungkan dua sifat atau lebih yang berbeda yang semula terdapat dalam dua bangsa ternak ke dalam satu bangsa silangan.

Program inseminasi buatan (IB) di Indonesia telah menghasilkan beberapa sapi potong silangan. Sapi SIMPO sebagai hasil persilangan antara sapi Simmental dengan sapi peranakan ongole (PO) dan LIMPO sebagai hasil persilangan antara sapi Limousin dengan sapi PO, merupakan sapi silangan yang banyak disukai dan dipelihara oleh peternak rakyat. Simmental atau Limousin adalah sapi dari bangsa Bos Taaurus yang berasal dari daerah sedang (temperate zone), terbiasa hidup di daerah dengan temperatur udara yang dingin dan tatalaksana pemeliharaan yang intensif (ASTUTI et al., 2002), serta termasuk sapi tipe besar sehingga secara genetik mempunyai laju pertumbuhan yang cepat. Sapi PO adalah termasuk bangsa Bos Indicus yang berasal dari daerah tropis, terbiasa hidup di daerah dengan temperatur udara yang panas dan tatalaksana pemeliharaan yang ekstensif, serta termasuk sapi tipe kecil sampai sedang sehingga laju pertumbuhannya rendah sampai sedang. Oleh karena itu, sapi SIMPO dan LIMPO secara genetik akan mewarisi sifat-sifat kedua tetuanya masing-masing sebesar 50%, yaitu diduga dibandingkan dengan sapi PO akan mempunyai potensi laju pertumbuhan lebih cepat tetapi kurang tahan terhadap pengaruh temperatur udara panas dan kondisi pakan terbatas.

Kenyataan di lapang, sapi SIMPO dan LIMPO yang dipelihara di peternak rakyat ada yang menunjukkan performan produksi tidak lebih baik bahkan beberapa kasus justru lebih jelek dibandingkan dengan sapi PO. Performan penotip yang kurang/tidak mencerminkan potensi genotipnya ini, menurut DIWYANTO (2002) diduga karena pengaruh terjadinya genetic-environmental interaction.






Sapi Simpo (Simmental PO)

Keberhasilan IB untuk menghasilkan seekor pedet saat ini cukup bervariasi, tetapi untuk beberapa kawasan telah berhasil dengan baik. Salah satu kunci keberhasilan IB adalah, sapi dipelihara secara intensif dengan cara di kandangkan. Hal ini akan memudahkan dalam deteksi berahi serta memudahkan petugas untuk melaksanakan IB. Akan tetapi secara umum keberhasilan IB masih lebih rendah dibandingkan dengan kawin alam (Subarsono, 2009).

Namun secara komprehensif laporan perihal keberhasilan IB untuk meningkatkan mutu genetic sapi (produktivitas) sampai saat ini belum ada. Demikian pula halnya dengan kinerja performans reproduksi sapi persilangan hasil IBpraktis belum banyak dilakukan evaluasinya, kecuali sinyalemen yang disampaikan Putro (2009). Oleh karena itu pelaksanaan IB harus disesuaikan dengan tujuan dan sasaran akhir yang akan dituju, serta dengan memperhatikan adanya interaksi genetika dan lingkungan (genotype environmet interaction, GEI). Apabila IB ditujukan untuk menghasilkan bakalan pada usaha cow-calf operation, maka penggunaan pejantan yang berukuran besar (misalnya: Simental maupun Limousin) hanya dapat dilakukan di daerah yang ketersediaan pakannya memadai.

Peternak menyukai sapi persilangan hasil IB, karena harga jual anak jantan sangat tinggi, sedangkan sekitar 50% hasil IB adalah sapi betina yang dipergunakan sebagai replacement. Dengan kegiatan IB, sapi lokal berubah menjadi sapi tipe besar yang membutuhkan banyak pakan. Pada kondisi sulit pakan, sapi persilangan menjadi kurus, kondisi tubuh buruk, dan berakibat menurunnya kinerja reproduksi, seperti: nilai S/C (sevice per conception) tinggi, jarak beranak panjang, dan rendahnya calf crop. Kondisi ini disertai rendahnya produksi susu dan tingginya kematian pedet. Pada kondisi pemeliharaan yang baik, kinerja reproduksi sapi persilangan tetap baik.
Share:

Model-model Cara Memelihara dan Menggemukkan Sapi Potong


Macam-macam Sistem Penggemukan Sapi Potong dari Tradisional Sampai Modern
Apabila penggemukan sapi dilakukan dalam waktu yang relatif singkat maka diperlukan pemberian konsentrat yang banyak dalam komponen ransumnya. Namun, perlu diketahui bahwa pemberian konsentrat yang lebih dari 60% dalam komponen ransumnya sudah tidak akan ekonomis lagi walaupun harganya murah. Oleh karena itu, walaupun penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening memerlukan pemberian konsentrat yang relatif banyak dalam komponen ransumnya, tetapi jumlah pemberian konsentrat itu tidak boleh lebih dari 60% dalam komponen ransumnya.
Sistem Penggemukan dengan Pasture Fattening
Pasture atau padang penggembalaan adalah lahan yang digunakan untuk penggembalaan dan sumber hijauan segar bagi ternak. Menurut Parakkasi (1999), pasture adalah suatu lapangan terpagar yang ditumbuhi hijauan dengan kualitas unggul dan digunakan untuk menggembalakan ternak ruminansia. Ciri-ciri pasture yang baik yaitu produksi bahan kering tinggi, memiliki kandungan nutrien terutama protein kasar yang tinggi, tahan renggutan dan injakan serta kekeringan saat musim kemarau, pemeliharaannya mudah, daya tumbuh cepat, nisbah daun dan batang tinggi, mudah dikembangkan jika dikombinasikan dengan tanaman legume, ekonomis dan mempunyai palatabilitas yang tinggi.

Sistem Penggemukan Sapi Potong Jenis Pasture Fatteningadalah merupakan sistem penggemukan sapi yang dilakukan dengan cara menggembalakan sapi di padang penggembalaan. Dengan demikian, teknik pemberian pakan dalam sistem ini adalah dengan penggembalaan. Tidak ada penambahan pakan berupa konsentrat maupun biji-bijian sehingga pakan yang tersedia hanya berasal dari hijauan yang terdapat di padang penggembalaan. Oleh karena itu, hijauan yang terdapat di padang penggembalaan disamping rumput-rumputan yang ada, haruslah ditanami dengan leguminosa agar kualitas hijauan yang ada di padang penggembalaan itu lebih tinggi. Apabila hanya mengandalkan rumput-rumputan saja dan tanpa penanaman leguminosa maka tidak dapat diharapkan pertambahan bobot sapi yang lebih tinggi.



Apabila sistem penggemukan sapi pasture fattening akan diaplikasikan di Indonesia maka jenis leguminosa yang disarankan untuk ditanam di padang-padang penggembalaan adalah Arachis, Centrosema, Lamtoro, Siratro, dan Desmodium trifolium. Bibit tanaman tersebut dapat diperoleh antara lain di Balai Penelitian Ternak dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa.

Padang penggembalaan harus selalu terpelihara dari kerusakan dan erosi. Untuk itu, tata laksana penggembalaan harus dilakukan dengan baik. Sebelum digunakan, kapasitas tamping setiap areal padang penggembalaan harus ditentukan terlebih dahulu. Hal ini untuk menjafa agar tidak terjadi tekanan penggembalaan yang berlebihan atau over grazing.

Pada tempat-tempat tertentu di areal padang penggembalaan disediakan air minum bersih. Untuk menjaga agar sapi tidal kekurangan mineral maka tempat-tempat tertentu perlu pula disediakan lempengan-lempengan garam dapur atau mineral blok. Selain itu, areal padang penggembalaan sebaiknya ditanami pohon-pohon peneduh untuk berteduh sapi, terutama pada waktu hari sedang panas. Pohon peneduk ini dpat berupa tanaman lamtoro atau gamal.
Kandang pada sistem penggemukan sapi pasture fattening hanya berfungsi sebagai tempat berteduh sapi-sapi pada malam hari atau pada waktu sengan sangat panas. Penggemukan sistem pasture fattening memerlukan padang penggembalaan yang relatif luas sehingga sulit bila dilaksanakan di daerah-daerah yang padat penduduknya seperti di Pulau Jawa. Namun, bukan berarti penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening tidak dapat dilakukan di Indonesia.

Di luar Pulau Jawa, meskipun tidak banyak lagi lahan yang tersedia, tetapi sudah ada yang melakukan penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening. Di Pulau Sumatera, misalnya, dikenal kelompok Gembala Sriwijaya, Jaka Sampurna, dan Double Bell Ranch di Batam. Di Kalimantan Barat ada Kahayangan River Ranch sedangkan di Kalimantan Selatan ada Imbah Ranch. Di Sulawesi Selatan tidak kurang dari 8 buah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta yang bergerak dalam usaha penggemukan sapi sistem pasture fattening.
Dari segi biaya produksi, penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening lebih murah dibanding sistem lainnya. hal ini disebabkan oleh biaya hijauan dan upah tenaga kerjayang lelatif murah sebab tenaga kerja yang dibutuhkan tidak banyak. Namun, karena pakan atau ransum yang diberikan berupa hijauan dan meskipun dicampur dengan leguminosa, misalnya, pertambahan bobot badan yang dicapai pada sistem lainnya yang menggunakan hijauan dan konsentral lebih tinggi. Oleh karena itu penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening memerlukan waktu yang relatif lama, yakni sekitar 8-10 bulan.
Sapi bakalan yang digunakan pada penggemukan sapi sistem pasture fattening adalah sapi jantan atau betina yang minimal telah berumur sekitar 2.5 tahun. Sapi jantan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat daripada sapi betina sehingga waktu penggemukannya relatif singkat.
Indonesia mempunyai musim kemarau dan musim hujan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan vegetasi termasuk hijauan pakan ternak. Pada waktu kemarau, terutama pada bulan Juli-September, hijauan pakan ternak sulit diperoleh. Saat itu produksi hijauan atau rerumputan banya mencapai sekitar 50% dari produksi rata-rata per bulan. Dalam kaitannya dengan musim kemarau, diusahakan agar penjualan sapi-sapi dilakukan pada musim-musim susah untuk mendapatkan hijauan.
Untuk menanggulangi kesulitan mandapatkan hijauan pada musim kemarau, disarankan menanam leguminosa pohon seperti lamtoro atau petai cina dan gamal. Pohon-pohon tersebut ditanam di pinggir-pinggir padang penggembalaan atau pada tempat-tempat padang penggembalaan yang dapat berfungsi pula sebagai tempat berteduh sapa pada hari panas.

Dengan demikian, apabila terjadi kekurangan hijauan pada musim kemarau, setidaknya dapat dibantu dengan pemberian daun lamtoro tau daun gamal dari leguminosa pohon yang ditanam. Pemberian hijauan dari leguminosa pohon itu sebaiknya dilakukan pada saat sapi sudah selesai merumput dan beristirahat di kandang atau di tempat-tempat berteduh. Pemberian daun gamal pada sapi memerlukan waktu penyesuaian agar sapi itu mau memakannya. Pemberian daun gamal pada sapi dapat pula dilakukan dengan cara melayukannya terlebih dahulu selama semalam sebelum diberikan kepada sapi.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan padang penggembalaan yang digunakan untuk penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening adalah rotasi penggunaan padang penggembalaan. Suatu areal padang penggembalaan dapat dibagi atas beberapa petak dan diisi dengan beberapa ekor sapi yang digemukkan. Setiap petak harus diamati terus agar dapat ditentukan saat yang tepat untuk melakukan rotasi.

Penggemukan Dengan Fattening Intensif (Dry Lot Fattening)

Dry lot fatteningmerupakan sistem penggemukan sapi dengan pemberian ransum atau pakan yang mengutamakan biji-bijian seperti jagung, sorgum atau kacang-kacangan. Di Amerika Serikat, penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening dilakukan pada daerah pusat produksi jagung yang dikenal dengan corn belt.

Pemberian jagung yang telah digiling dan ditambah dengan pemberian hijauan yang berkualitas sedang pada penggemukan sapi sudah memberikan pertambahan bobot badan yang lumayan. Namun, belakangan ini penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening bukan hanya memberikan satu jenis biji-bijian saja, tetapi sudah merupakan suatu bentuk yang diformulasi dari berbagai jenis bahan pakan konsentrat.

Bahan-bahan yang dipergunakan dapat terdiri dari jagung giling, bungkil kelapa, dedak padi, polard, bungkil kelapa sawit, ampas tahu, dan sebagainya. Dengan penambahan mineral dan garam dapur, bahan-bahan tersebut diformulasi dan menjadi bentuk pakan jadi yang disebut konsentrat. Sapi dan ternak ruminansia lainnya membutuhkan serat kasar yang antara lain bersumber pada hijauan untuk memperlancar dan mengoptimalkan proses pencernaannya. Oleh karena itu, pemberian hijauan pada penggemukan dengan sistem dry lot fattening sangat dibatasi oleh batas-batas tertentu yang tidak akan mengganggu proses pencernaan. Untuk itulah, dibuat batasan minimal pemberian hijauan dalam komponen pakan atau ransum ternak ruminansia.

Untuk penggemukan sapi atau ternak ruminansia lainnya, kebutuhan minimal hijauan berkisar antara 0.5-0.8% bahan kering dari bobot badan sapi yang digemukkan.

Contoh: seekor sapi yang akan digemukkan mempunyai bobot badan 200 kg dan akan diberi hijauan berupa rumput gajah di samping pemberian konsentrat sebagai pakan utamanya. Rumput gajah segar mengandung 21.0% bahan kering. Dengan demikian kebutuhan minimal hijauan sapi yang akan digemukkan itu adalah 200 x 0.5/100 x 1 kg = 1.0 kg bahan kering atau 4.8 kg dalam bentuk segar. Namun, hijauan atau rumput yang diberikan selalu ada yang tidak dimakan atau terbuang pada waktu sapi itu makan. Oleh karena itu, pemberian hijauan selalu diberi tambahan sebanyak 5% dari kebutuhannya. Dengan demikian, rumput gajah segar yang akan diberikan pada sapi yang akan digemukkan itu adalah sebanyak 105 x 4.8 kg = 5.4 kg/hari.

Apabila penggemukan sapi dilakukan dalam waktu yang relatif singkat maka diperlukan pemberian konsentrat yang banyak dalam komponen ransumnya. Namun, perlu diketahui bahwa pemberian konsentrat yang lebih dari 60% dalam komponen ransumnya sudah tidak akan ekonomis lagi walaupun harganya murah. Oleh karena itu, walaupun penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening memerlukan pemberian konsentrat yang relatif banyak dalam komponen ransumnya, tetapi jumlah pemberian konsentrat itu tidak boleh lebih dari 60% dalam komponen ransumnya.

Contoh: Seekor sapi yang akan digemukkan mempunyai bobot badan 200 kg dengan pertambahan bobot badan diharapkan 1.0 kg/hari. Sapi itu akan diberi konsentrat sebanyak 3.6 kg/hari. Konsentrat yang diberikan itu mengandung 85.8% bahan kering. Lama penggemukan relatif singkat, yakni sekitar 3 bulan. Dilihat dari segi ekonomisnya, apakah pemberian konsentrat itu masih terlalu sedikit atau sudah terlalu banyak?

Perhitungan: Jumlah bahan kering konsentrat dan hijauan yang diberikan itu = 3.6/100 x 85.8 + 15.6/100 x 21.8 x 1 kg = 6.49 kg. Porsi konsentrat dalam komposisi ransum itu = (3.6/100 x 85.8)/6.49 x 100% = 47.6%. Dengan demikian, jumlah pemberian konsentrat itu masih cukup ekonomis dan tidak terlalu sedikit. Namun, apabila pertambahan bobot badan sapi itu tidak mencapai 1.0 kg/hari dan kemampuan konsumsinya masih dapat ditingkatkan maka pemberian konsentrat itu masih dapat diperbanyak menjadi 4.2 kg/hari. Dalam hal ini porsi konsentrat menjadi (4.2/100 x 85.8)/7.0 x 100% = 51.5% (masih dibawah 60%).

Sapi yang digemukkan dengan sistem dry lot fattening berada terus-menerus dalam kandang dan tidak digembalakan ataupun dipekerjakan. Sapi bakalan yang digemukkan pada sistem dry lot fattening pada umumnya adalah sapi-sapi jantan yang telah berumur lebih dari satu tahun dengan lama penggemukan berkisar antara 4-6 bulan.

Penggemukan Secara Tradisional Sistem Sapi Kereman
Penggemukan sapi dengan sistem kereman dilakukan dengan cara menempatkan sapi-sapi dalam kandang secara terus-menerus selama beberapa bulan. Sistem ini tidak begitu berbeda dengan penggemukan sapi dengan sistem dry lot, kecuali tingkatnya yang masih sederhana. Pemberian pakan dan air minum dilakukan dalam kandang yang sederhana selama berlangsungnya proses penggemukan.

Pakan yang diberikan terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan perbandingan yang tergantung pada keresediaan pakan hijau dan konsentrat. Apabila hijauan tersedia banyak maka hijauanlah yang lebih banyak diberikan. Sebaliknya, apabila pakan konsentrat mudah diperoleh, tersedia banyak dan harganya relatif murah maka pemberian konsentratlah yang diperbanyak. Namun, ada pula peternak yang hanya memberikan hijauan saja tanpa adanya pemberian konsentrata ataupun pakan lainnya. sudah barang tentu hal ini dapat dilakukan pada daerah-daerah yang masih potensial menyediakan hijauan.

Pengertian konsentrat dalam penggemukan sapi sistem kereman adalah sederhana, yakni hanya terdiri dari satu jenis dan paling banyak dua jenis bahan pakan saja. Misalnya, konsentrat itu hanya berupa dedak padi saja atau ampas tahu, atau pun hasil industry pertanian lainnya. Ada pula yang membuat konsentrat itu berupa campuran dedak padi dengan ubi kayu yang dilumatkan dan kemudian direndam dalam air panas selama beberapa saat.

Penggemukan sapi dengan sistem kereman hanya terdapat di Indonesia dan banyak dilakukan di daerah-daerah Magetan, Wonogiri, Wonosobo, Lamongan, Bondowoso, Banyuwangi, Sulawesi Selatan, Aceh dll. Ada beberapa faktor yang mendukung berkembangnya usaha penggemukan dengan sistem kereman di beberapa daerah, yaitu;

  • Bakalan sapi untuk penggemukan cukup tersedia dan relatif mudah diperoleh.
  • Ketersediaan hijauan, termasuk limbah pertanian, cukup potensial dan tersedia sepanjang tahun.
  • Ketersediaan hasil ikutan industri pertanian seperti ampas tahu, ampas brem, ampas nanas dan sebagainya cukup potensial dan tersedia sepanjang tahun.
  • Kotoran sapi berupa pupuk kandang sangat diperlukan untuk memupuk tanaman pertanian penduduk. Pada umumnya sapi bakalan yang digunakan untuk penggemukan dengan sistem kereman adalah sapi-sapi jantan yang telah berumur sekitar 1-2 tahun dalam kondisi kurus. Lama penggemukan berkisar antara 3-6 bulan.
Pertambahan bobot badan yang dicapai pada penggemukan sapi sistem kereman sangat bervariasi dan terutama tergantung pada pakan atau ransum yang diberikan. Penelitian yang dilakukan di daerah Wonogiri, misalnya, dengan pemberian ransum berupa hijauan, konsentrat jadi, dan ditambah dengan ampas brem akan mendapatkan pertambahan bobot badan rata-rata 0.8 kg/hari.

Dari penelitian yang telah dilakukan pada sapi peranakan ongole dan jantan sapi perah juga diperoleh rata-rata pertambahan bobot badan masing-masing adalah 0.52 kg/hari dan 0.4 kg/hari dengan hanya memberikan hijauan saja tanpa ada penambahan konsentrat. Apabila ransum yang diberikan hanya hijauan saja maka pertambahan bobot badan yang dicapai tidak akan setinggi pertambahan bobot badan yang mendapat ransum berupa hijauan dan konsentrat.

Sistem Penggemukan Kombinasi Antara Pasture dan Dry Lot Fattening

Penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot fattening banyak dilakukan di daerah-daerah subtropis maupun tropis dengan pertimbangan musim dan ketersediaan pakan. Di daerah subtropis, pada musim dingin sebelum salju turun, sapi digemukkan dengan sistem pasture. Setelah turun salju, penggemukan sapi diteruskan dengan sistem dry lot. Sedangkan untuk daerah tropis, pada musim banyak produksi hijauan ataupun rumput, penggemukan sapi dilakukan dengan pasture. Pada musim tertentu pada musim kemarau, sewaktu produksi hijauan sudah sangat menurun, penggemukan sapi diteruskan dengan sistem dry lot.

Penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot fattening dapat pula diartikan dengan menggembalakan sapi-sapi padan padang-padang penggembalaan di siang hari selama beberapa jam, sedangkan pada sore dan malam hari sapi-sapi dikandangkan dan diberi pakan konsentrat secukupnya. Sistem demikian ini umumnya terdapat pada daerah yang luas padang penggembalaannya sudah sangat terbatas.

Dibandingkan dengan sistem penggemukan sapi pasture fattening, lama penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot fattening lebih singkat, tetapi lebih lama dibandingkan dengan sistem dry lot fattening. Lama penggemukan sapi pada umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor dan terutama adalah umur, kelamin, kondisi, bobot, dan kualitas maupun kuantitas pakan yang diberikan. Dapat ditambahkan, bahwa sapi yang lebih muda memerlukan waktu penggemukan yang lebih lama dibandingkan dengan sapi yang telah berumur tua. Dalam kaitan antara umur dengan lama penggemukan, dapat dikemukakan sebagai berikut:
  • Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur kurang dari satu tahun, lama penggemukan berkisar antara 8-9 bulan.
  • Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur 1-2 tahun, lama penggemukan berkisar antara 6-7 bulan.
  • Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur 2-2.5 tahun, lama penggemukan berkisar antara 4-6 bulan.
Share:

Definition List

Unordered List

Support